Rabu, 23 Juli 2008

Berpengaruh, Tak Terpengaruh

Photobucket

Assalaamu alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

Semakin lama dalam nikmat iman dan Islam hendaknya kita bisa semakin faham agama, bukan sebaliknya. Artinya tidak terpengaruh, bahkan berpengaruh, bisa amar ma’ruf cara fathonah, bithonah, dan budi luhur karena Allah. Faham agama itu berarti mengerti, memahami, serta ridho dalam melaksanakan semua peraturan agama. Dimana peraturan agama tersebut bersumber pada tiga hal: al Quran, al Hadits, dan ijtihad pengatur agama yang tidak maksiat/menyimpang dari garis-garis Allah dan Rosul. Berdasarkan dalil haq dalam Al Quran: “Yaa ayyuhalladziina aamanu athi’ulloha wa athi’ur rosuula wa ulil amri minkum. Fa intanaa za’tum fii syaiin farudduuhu ilallohi wa rosuuli… al ayat (QS. Annisa 59). Wahai orang beriman, taatlah kalian kepada Allah, Rosul, dan pengatur agamamu. Maka jika berselisih kalian dalam sesuatu (masalah ibadah), maka kembalilah kepada Hukum Allah dan Rosul, dst.

Perlu diingat bahwa kefahaman agama itu bisa didapat dengan cara mencari-cari kefahaman itu sendiri. Sebagaimana nasehat yang sering kita dengar: jika tidak masuk, ya dimasuk-masukkan, arti kata: ya berusaha sak pol kemampuan untuk faham. Pun dalam al Quran disebutkan: “Walladziina jahadu fiina la-nahdiyannahum subulanaaAdapun orang-orang yang berusaha/mempersungguh dengan urusan Kami (ibadah), niscahya akan Kami tunjukkan jalannya. Idiom bahasa Inggrisnya mungkin seperti ini: “If there is a will, there is a way” Dimana ada kemauan, maka pasti ada jalan. Bila masih belum faham/nerimo suatu dalil dalam al Quran, Hadits, atau ijtihad pengatur yang tidak maksiat, tanya kembali kepada diri kita: mengapa saya belum bisa menerima ayat/dalil/perintah tersebut? Apa sebabnya?.

Poro sedulur, Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wassalaam sendiri telah diperintah Allah Subhanahu wa ta'ala agar tetap mencari kefahaman agama selama hidupnya. Dalam al Quran disebutkan: “Fa’lam annahu laa ilaaha illalloh…Hendaknya engkau ketahui wahai Muhammad, bahwasanya Tak ada sesembahan kecuali Alloh. Dimana mensyaratkan pula bahwa untuk mencapai tingkat faham agama memang memerlukan suatu proses yang mungkin tidak cepat. Lihatlah bagaimana seorang Nabi Musa 'alaihissalaam yang ‘masih’ penasaran untuk bisa melihat langsung wujud Sang Pencipta, meskipun Beliau sudah sangat percaya 100% bahwa hanya Allah Subhanahu wa ta'ala Tuhan seru sekalian alam.

Lain lagi dengan umat Muhammad shollallohu 'alaihi wassalaam pada waktu perang khondaq (parit), dimana musuh islam (kafir Quraisy) telah mengepung barisan mereka pada waktu itu. Keadaan yang terjepit pada waktu itu membuat gusar hati para orang iman: “Mataa nashrulloh?mana pertolongan Allah?. Maka Allah memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wassalaam: “Qul, inna nashrullohi qoriibkatakan wahai Muhammad, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Akhirnya berkat kefahaman mereka dengan ucapan Nabi tersebut, pertolongan Allah dan kemenangan pun benar-benar datang kepada mereka. Kefahaman agama bisa terwujud dengan cara mempelajari dan mengkaji al Quran dan Sunnah Rasulullah shollallohu 'alaihi wassalaam, banyak mendengar nasehat, bergaul dengan orang-orang sholih, dan tidak meremehkan suatu hukum agama. Poro sedulur, mesti diingat pula bahwa yang dinamakan nasehat adalah semua yang bersumber pada al Quran, Sunnah Rasulullah SAW dan ijtihad pengatur agama. Mari berusaha lurr, agar kefahaman agama yang telah kita rasakan ini terus meningkat, terasa manis, dan bisa dibawa sampai tutug pol ajal pati kita masing-masing. Mudah-mudahan kita semua diberikan kefahaman agama dan bisa tetap dalam hidayahNya, apapun yang terjadi. Amiin.

Mohon maaf bilamana ada kekeliruan. Jazaa kumullohu khoiro.

Wassalaamu alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.

Mon, 18 Nov 2002

Tidak ada komentar: