Rabu, 23 Juli 2008

Keseimbangan

Photobucket

(courtesy of mlahanas.de)

Ini hanya bagaimana saya mencermati keseimbangan hidup...

Jika kita amati jalan raya, terutama di Jakarta yang super macet ini kendaraan yang lalu lalang sangat beragam. Untuk mobil saja ada jenis sedan biasa, sedan sport, bus, truk, mini cab, bakter (bak terbuka), MPV (Multi Purposes Vehicle), SUV (Sport Utility Vehicle), maupun jenis jeep. Jenis motor pun demikian, ada matic, bebek, jelajah, retro, sport, bahkan trail.

Mari berpikir, mengapa manusia menjadikan beberapa jenis kendaraan yang berbeda-beda? Jawabannya bisa jadi karena mereka (kendaraan) diciptakan untuk berbagai keperluan yang berbeda pula. Ambil contoh tipe sedan dan jeep. Dari segi stabilitas di jalan raya mobil tipe sedan sangat mumpuni. Biasanya mobil sedan yang berharga diatas 500 juta rupiah dilengkapi dengan berbagai fasilitas keamanan dan kenyamanan berkendara yang maksimal. Downforce dalam kecepatan tinggi maupun akselerasi dalam sistem pembuangan CO2 yang sangat efisien biasanya sudah menjadi hal yang mafhum. Namun demikian sedan tidak diciptakan untuk medan berat seperti model jeep. Meski terkesan kaku dan boros bahan bakar, jeep memiliki kelebihan dalam mengatasi jalur yang lebih ekstrim. Ditilik dari hal torsi, penggerak roda ganda, hingga suspensi yang lebih keras daripada sedan, membuat jeep handal melewati segala jenis jalan raya. Meski demikian, jeep yang memiliki jenis ban khusus layaknya motor trail memang kurang cocok untuk jalan raya normal (asphalt).

Saya tidak mau lebih jauh membicarakan mengenai mobil, namun saya ingin sedikit menekankan betapa manusia juga harus memiliki hati dan sikap `sesuai jalur` yang ditemui dalam hidup. Bila suatu saat memang Alloh menghendaki kita berada di jalur yang kurang bersahabat, hati ini memang harus dimodifikasi agar lebih kuat. Janganlah kita merasa ditinggalkan oleh Yang Maha Kuasa. Jangan berkecil hati apalagi berputus asa. Siapapun pasti akan melewati jalur yang berbeda-beda, yang sudah ditetapkan 50.000 tahun sebelum langit dan bumi. Tetaplah memohon yang terbaik kepadaNya sembari kita perbaiki, modifikasi, bahkan perbaharui hati dan keimanan kita agar dapat melewati jalur terjal yang pastinya tidak ada manusia normal yang menginginkan. Dan tidak bijaksana pula bagi orang beriman bila merasa di-dzolimi olehNya akibat jalan yang diberikan tidak sesuai dengan hati nurani. Kehendak Tuhan dan kehendak manusia memang kadang jauh berbeda. Manusia beriman yang sudah pasti memiliki ciri khas: percaya dengan rukun iman ke-5, sudah sepantasnya tidak selalu bertanya: "who's to blame?" (siapa yang salah?). Jika masih penasaran mancari-cari siapa yang salah, pastinya hanya dua golongan yang patut dipersalahkan: bisa manusia, bisa juga setan/iblis. Atau bisa jadi... diri kita sendiri yg masih belum sepenuhnya percaya dengan rukun iman ke-5. Naudzubillahi mindzaalik. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah manusia yang berstatus muslim (baca: jm) itu perfect (sempurna)?. Secara keyakinan dan ibadah saya menjawab ya!. Kesempurnaan apalagi selain mendapat kesempatan masuk surga Allah selamat dari neraka Allah?. Maka agar keyakinan terhadapNya tidak berubah sedikitpun, hendaknya mesti dibedakan antara keyakinan (agama) dan perilaku masing-masing individu yang memegang keyakinan tersebut. Apakah masih ada yang ragu dengan suatu ayat dalam Al Quran yang menyebutkan bhw Allah telahmenyempurnakan Islam sebagai agama? ada lagi selain Islam yang menurut Anda lebih sempurna?. Bila sempurna menurut hati nurani manusia saya kira sekarang banyak sekali. Soal yang terakhir ini, kiranya seorang Lia Aminuddin (Lia Eden) telah menjadi bukti hidup bahwa manusia yang jauh dari manisnya iman selalu mencari cara agar mereka dapat hidup sesuai `hati nurani`, bukan berdasar perintahNya. Ambil baiknya, buang yang tidak menguntungkan bagi mereka. Percaya dengan ayat yang menguntungkan mereka, tidak mempercayai/melaksanakan ayat yang tidak menguntungkan posisi mereka sebagai manusia normal. Jika memungkinkan; diargumentasikan, ditentang, bahkan coba dibumihanguskan. Layaknya kaum Bani Isroil yang menutup-nutupi ayat perzinahan di zaman Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wassalaam dulu.

Islam? sempurnakah? Jika demikian, mengapa sedari dulu sejak jaman Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalaam sampai saat ini masih ada juga orang Islam yang dihukum rajam? dihukum jilid (cambuk)? dihukum potong tangan? dll. Apakah itu menggambarkan sempurnanya Islam?. Mengapa ada orang yang mengaku Islam berzina? mencuri? melakukan hal diluar Islam lainnya?. Bila kita melihat si pelaku, memang Islam ini sepertinya bukan sesuatu yang sempurna. Namun bagaimana jika kita memandangnya terbalik?. Artinya adalah, dengan adanya hukum had yang semestinya dilaksanakan menurut tuntunan Allah-Rosul, justru disanalah kesempurnaan Islam terlihat jelas. Islam = keseimbangan hidup. Keseimbangan sangat dibutuhkan agar sesuatu berjalan baik sesuai aturan. Ibarat suatu rumah, sang atap tidak mengeluh mengapa ia harus kepanasan kehujanan. Sang pondasi tidak mengeluh mengapa ia menjadi tulang punggung yg menanggung beban berat banding yg lain. Nah, mengapa masih ada muslim yang merasa hidup ini tidak adil. Bisa jadi ada ketidakseimbangan yang terjadi dalam hidupnya. Maka nasehat demi nasehat tetap diperlu-perlukan agar menjadi modal kekuatan kita bilamana suatu saat kita menemui ketidakseimbangan hidup. Bagaimana bila benar-benar terjadi? segera kembalikan segala sesuatunya ke-Atas sana (hablum minalloh). Koordinasikan ketidakseimbangan tersebut dengan pengurus-pengatur yang memang didapuk (diserahtugaskan) untuk mengurusi kehidupan ibadah kita (hablum minan naas). Saya pikir jika seseorang sudah memiliki hubungan mesra dengan sang Kholiq, dan punya hubungan baik dengan manusia lainnya, dan sudah merasakan keseimbangan hidup dalam dirinya, cobaan seberat apapun insya Allah tidak merubah hatinya untuk tetap istiqomah dalam beribadah. Layaknya seorang Nabi Ayyub (cmiiw) yang dicoba dengan cobaan maha dahsyat, namun ia tetap beristiqomah kepadaNya. Jadi jelaslah bahwa keseimbangan mesti ada dalam hidup ini. Keseimbangan inilah yang menjadikan sempurnanya Islam, dalam hati maupun perbuatan. Yang benar diberi pahala, yang salah mendapat hukuman. Yang salah dinasehati, yang kuat membantu yg lemah. Semua sesuai porsi. Namun porsi adil menurut Hukum Allah-Rosul, bukan porsi adil menurut hati nurani manusia. Bahkan dalam kitab injil-pun diterangkan: "maka berhentilah mendasarkan dirimu pada pemikiran manusia, dan kembalilah mendasarkan dirimu pada pemikiran Allah". Nuruti ego (merasa benar sendiri, paling tahu, dkk) tidak ada habisnya kecuali mati. Bilamana telah berhasil mengatasi hal tersebut (cobaan), manisnya iman pasti kita rasakan. Manisnya iman yang didapat karena kita lebih mencintai Allah-Rosul bahkan dibanding diri sendiri. Ego pribadi (emosi, hawa nafsu) telah dikalahkan oleh kecintaan kita thd Allah-Rosul. Alhamdulillah, hidup dalam keteraturan QHJ seharusnya kualitas dan keseimbangan hidup ini lebih baik dari manusia lain yang belum diberi hidayahNya. Maka itulah apa yang sudah ditetapkan dari sejak jaman Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalaam dulu tetap kita laksanakan:

Menghidupkan mekanisme musyawarah (wa syaawirhum)

Berpegang teguh pada hukum Allah-Rosul

Menjalankan roda berputar kaum muslimin

Pengurus, pengatur agama mengurusi rukyah sak deremo karena Allah, rukyah toat bil makruf karena Allah (adil dan toat)

Ridho dengan segala pemberianNya

Bila ada ketidakseimbangan hidup, kembalikan semua perkara kepada yang ditugaskan meramut perkara orang Islam


Semoga bermanfaat...

-2007-

Tidak ada komentar: