Jumat, 25 Juli 2008

Merasakah?

Photobucket
(courtesy of news.nationalgeographic.com)

Coba bayangkan, apa kira-kira yang ada dibenak orang-orang yang menerima pesan ancaman seperti ini:

"kalau kamu tidak berikan uang tebusan yang kami minta, anakmu akan kami bunuh!"

"kalau loe coba-coba melawan, gue tembak loe!"

"sekali lagi kamu terlambat memberikan laporan, kamu saya pecat dengan tidak hormat!"

"kami siap meledakkan gedung anda dalam 5 menit!"

Banyak sekali manusia di muka bumi yang mungkin pernah mendengar ancaman atau kalimat-kalimat negatif seperti diatas, meskipun bukan kita, saya, atau anda tentunya. Tapi insya Allah pasti ada. Nah, apa yang mereka rasakan? banyak tentunya yang shock atau bahkan lebih dari itu. Hati gundah gulana, tidak ada perasaan tenang, bisa tidur saja sudah dianggap lumayan. Mengapa? sebab mereka tahu pasti apa yang akan terjadi jika melanggar kalimat-kalimat yang bersifat ancaman tadi.

Sekarang, marilah kita bertanya dalam hati: "bagaimana seandainya yang mengancam diri kita ada Allah subhanahu wa ta'ala? Dzat Yang Tidak Pernah Mati, Sang Pencipta Alam".

Saudaraku, pernah saya bilang di thread lain bahwa manusia terlahir ke muka bumi itu penuh dengan beban, penuh dengan ancaman. Manusia yang dimaksud ini tentunya adalah manusia yang telah beranjak dewasa atau baligh. Sebab manusia yang telah dewasa menurut Islam berarti ia sudah sepenuhnya bertanggung jawab terhadap diri sendiri dihadapan Tuhannya kelak setelah ia wafat. Merasakah bahwa kita sedang terbebani sesuatu?

Saudaraku, ternyata banyak sekali tugas dan kewajiban kita sebagai hambaNya. Maka janganlah sesekali lupa bahwa esensi hidup kita di dunia itu untuk apa sebenarnya. "wa maa kholaqtul-jinna wal insa illaa li-ya'buduun". tidak Ku-ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk menyembah (beribadah) kepadaKu. QS. Adz-Dzaariyaat 56.

Dari sepenggal ayat dalam al-Qur'an tersebut kita seharusnya sadar bahwa apapun yang kita kerjakan di dunia, haruslah dalam koridor beribadah kepadaNya. Apakah ibadah itu hanya ibadah ceremonial saja semisal apa-apa yang termasuk dalam rukun islam? tidak juga. Apapun bisa menjadi ibadah bila:
1. Tidak bertentangan dengan perintah Allah dan RasulNya (had).
2. Tidak menyebabkan mudharat (kerugian) bagi manusia lain.
3. Tidak bertentangan dari apa yang telah digariskan oleh Rasul dan khulafaur-rasyidiin.
4. Bukan perkara tambahan yang dibuat-buat, dimana Rasulullah dan khulafaur-rasyidiin tidak melakukannya (bid'ah).
5. Ijtihad para pengatur agama / ijma 'ulama yang tidak bertentangan dengan ketentuan Allah dan RasulNya.
6. Niat mukhlis-lillah karena Allah semata.
7. Dan lain-lain.

Bagaimana dengan bekerja? ya, asalkan diniati ibadah untuk mencari maisyah yang halal, yang mana tetap diniati untuk mencari modal berjuang di jalanNya (jahidu fii sabiilillah). Belajar, bagi para muslim yang masih belajar di sekolah atau kampus-pun termasuk ibadah bilamana diniati karena Allah demi kemajuan diinul-islam di masa yang akan datang. Ilmuwan dan para peneliti? ya, bilamana ia niati karena Allah demi kemashlahatan ummat di masa yang akan datang. Mondok (mencari ilmu agama di pondok pesantren), berbakti kepada kedua orang tua, menolong sesamanya (kepada yang berhak ditolong), bertabiat luhur (berbudi luhur), membayar hutang bila mempunyai hutang, dan sebagainya. Ini semua bisa dipastikan termasuk beribadah kepadaNya dimana tentunya semua harus tetap diniati mukhlis-lillah karena Allah.

Pernahkah berpikir, apa yang akibatnya bila kita, manusia, tidak melakukan ibadah sesuai "order" Sang Maha Kuasa selama hidup di dunia?. "wa man-ya'shillaaha wa-rosuulahuu wa-yata'adda hududa-hu yudkhil-hu-naaron kholidan-fiihaa wa-lahuu 'adzaabun-muhiin". dan barangsiapa yang menentang Allah dan rasulNya dan melanggar ketentuanNya, maka Allah akan memasukkannya kedalam neraka. Kekal abadi didalamnya dan baginya siksa yang hina. QS. an-Nisaa 14.

Ternyata dibalik perintahNya ada ancaman yang menyertainya. Biar mudah, silakan tengok sifat dan kelakuan Qorun masa lalu. Subhanallah, mubahalah menyebabkan Qorun disiksa, diri dan hartanya ambles (ditenggelamkuburkan kedalam tanah) karena menentang Musa 'alaihis-salaam yang membawa risalah Robb-nya. Begitu juga Fir'aun yang ditenggelamkanNya di Laut Merah, karena ia dengan sengaja berperilaku tidak sesuai "order" Sang Khaliq untuk taat kepada Musa 'alaihis-salaam untuk mengakui bahwa tak ada Tuhan selain Allah. Juga tengoklah sifat dan kelakuan Tsa'labah sahabat Rasulullah shollallohu 'alaihi wassalaam. Dahulu ia hanyalah seorang fakir yang sangat fakirnya. Setelah Allah memberi nikmat kekayaan, ia sengaja menentang Nabi shollallohu 'alaihi wassalaam dan menghindari infaq fii sabiilillah. Apa yang terjadi? tak ada 1 orang sahabat Nabi-pun yang menerima taubatnya, karena sewaktu Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wassalaam hidup, Baginda Nabi shollallohu 'alaihi wassalaam pun tidak mau menerima taubatnya. Nah, menurut dalil diatas, kita sudah bisa menebak dimana akhirnya mereka-mereka yang berani menentang dan tidak mau menjalankan "order" Allahu ta'ala bertempat di akhirat nanti. Jika demikian kenyataannya, masih beranikah anda melanggar "order"-Nya?. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar: