Selasa, 22 Juli 2008

The Return Of The King

Photobucket
(courtesy of superbike.co.uk)

Valentino Rossi wins US Grand Prix MotoGP. Dewa MotoGP telah kembali menemukan jati dirinya. Setelah sekian lama tidak mendapatkan titel tertinggi MotoGP di Laguna Seca Amerika, The Doctor (sebutan Valentino Rossi) membuktikan bahwa gelar yang diraihnya hari Senin dini hari, 21 Juli 2008 kemarin merupakan bukti bahwa dirinya masih bisa disebut Raja Roda Dua. Rossi patut mendapat acungan jempol untuk race kemarin. Bagaimana tidak, 40 menit dilewati dengan susah payah menghadang gempuran demi gempuran sang Juara Dunia bertahan, Casey Stoner. Stoner sendiri saat ini tidak lagi pantas disebut anak bawang. Ia bukan pembalap diatas motor tim satellite. Dengan motor dari tim pabrikan DUCATI GP-8 andalannya, si anak hilang ini benar-benar mempersungguh usahanya untuk tetap menjadi yang terbaik di dunianya, MotoGP. Buat saya pribadi, perhelatan akbar tersebut mengandung banyak arti yang bisa dijabarkan:

Usaha Sampai Titik Darah Penghabisan
Namanya berusaha, ya jangan tanggung-tanggung. Rossi dan Stoner memperlihatkan pada kita bahwa bila kita berjuang akan suatu target dengan sungguh-sungguh, hasil yang diraih pun akan setimpal. Dalam al-Qur'an disebutkan: wal-ladziina jahadu fiinaa la-nahdiyannahum subuulanaa. dan orang-orang yang mempersungguh di jalanKu (mempersungguh dalam masalah agamanya) niscahya akan Ku-tunjukkan jalanKu pada mereka. Casey Stoner sendiri kalah dari rival beratnya itu karena kesalahan sendiri. Namun kesalahan itu tidak menjadikannya putus asa. Justru ia tetap pada racing line-nya. Tidak terlihat kendur sedikitpun. Ini terbukti dari catatan waktu balapnya dimana sesungguhnya ia sudah tertinggal kurang lebih 16 detik, hingga finish balapan ia bisa memposisikan dirinya hanya berbeda waktu dibawah 14 detik dibawah Rossi setelah keluar lintasan dan mencium gravel. Sungguh hal yang luar biasa dalam dunia balap.

Mengerti Kadar Kemampuan Diri Sendiri
Jika seseorang telah mengenal karakter diri sendiri, ia akan tahu bagaimana membawa diri di suatu lingkungan tertentu. Mengerti apa yang dihadapi, bagaimana cara menghadapi, dan bagaimana mengantisipasi hal-hal yang kemungkinan akan merugikan/membahayakan dirinya. Orang iman yang membawa barang haq tidaklah mudah. Ada hadits taqrir menyebutkan: lam-ya'ti rojulun qottu bi-mitsli maa ji'ta illaa 'udiya. tidak datang seorang laki-laki (siapapun) yang membawa seperti yang kau bawa (Muhammad!) kecuali ia pasti digegeri (dimusuhi, dibenci, dan hal-hal negatif lain yg berkenaan dengan dirinya). Solusi? ada dalam al-Qur'an yang menyebutkan: walaa tahinuu walaa tahzanuu wa antumul a'lawnaa in-kuntum mu'miniina. dan jangan merasa susah payah, jangan merasa rendah, padahal kamu itu mulia (tinggi derajatnya) jika kamu adalah orang beriman. Jadi, ya jadi orang beriman ini asik aja lagi. Ingatlah bahwa Allah selalu bersama kita... jika kita beriman kepadaNya.

Tahu Apa Yang Diraihnya

Manusia berusaha itu pasti punya tujuan atau cita-cita. Rossi dan Stoner berbeda dengan kita yang naik motor hanya untuk transportasi. Mereka benar-benar professional. Membalap tidak asal balap saja. Buat mereka jalur balapan adalah hidupnya. Bukan hanya titel atau gelar saja yang mereka tuju, namun banyak hal lain yang tentunya menguntungkan bagi mereka. Layaknya ungkapan: winner takes it all, sang juara punya keunggulan tertentu dibandingkan pesaingnya. Bisa berupa material maupun non-material. Sebagai manusia beriman, sangat bijaksana apabila kita tahu dan mengerti apa yang mesti diraih/dicapai: kehidupan akhirat yang nikmat tentunya, kebalikan dari kehidupan akhirat yang menyakitkan. Sama seperti pembalap professional, mereka pun belajar banyak, butuh waktu untuk menjadi yang terbaik. Nah, untuk jadi orang beriman yang terbaik itu membutuhkan kesabaran, ketekunan, sampai pada akhirnya bisa melewati tahap kelihaian. Lalu siapakah orang beriman yang terbaik? tentunya yang terbukti derajat pahalanya tinggi menyamai kedudukan para nabi dan syuhada di akhirat nanti. "Haree gennee ngomongin surga-neraka? surga punya nenek loe apa?!". Mungkin ada yang pernah nge-nyek (bertanya sinis) begitu kepada anda? jangan khawatir, bilang saja "baca dan perhatikan baik-baik saat anda membolak balikkan al-Qur'an dan al-Hadits, apa yang anda temukan disana?". Ya, itulah cita-cita paling luhur yang pernah didengung-dengungkan umat manusia di muka bumi, dan alhamdulillah kita tahu itu: jannaatu-na'im. Al-jannaatu haqqun, wa naaru haqqun.

Perlunya Dukungan Pihak Lain
Rossi dan Stoner tidak akan bisa mencapai hasil yang maksimal jika tidak ada dukungan berarti dari berbagai pihak. Mekanik, ahli aerodinamika, ahli strategi, sampai pihak sponsorship. Semua itu mesti berjalan baik di jalurnya demi satu tujuan: hasil yang maksimal. Dalam berperikehidupan manapun tidak ada satu manusia pun yang bisa mendapatkan tujuan hidupnya tanpa bantuan orang lain. Alangkah baiknya bila kita juga mengerti bahwa kita tidak hidup sendirian, kita tidak hidup di hutan. Kita butuh orang lain untuk hidup dan beribadah. Contoh: untuk sampai ke masjid tujuan yang mungkin jauh dari rumah, kita butuh kendaraan. Bisa jadi kendaraan umum, atau pribadi. Kendaraan pribadi pun butuh penjual bensin. Pikir sendiri, apa yang bisa kita lakukan tanpa orang lain. Maka itu sudah sepantasnya muslimin yang mengerti adab-nya Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam bisa fathonah, bithonah, budi luhur, bisa tepo seliro, bisa tenggang rasa, bisa baik dan bekerjasama dengan orang lain, tidak merugikan orang lain, disengaja maupun tidak. Karena kita butuh orang lain untuk mencapai tujuan, bahkan orang lain yang masih di-qodar jauh dari agamanya sekalipun. Karena kita mengerti dan mengerti bahwa kita mempunyai tujuan, tidak hanya di dunia, namun tujuan yang mulia, yaitu kehidupan yang di-ridhoi Allahu Ta'ala.

Tidak ada komentar: