Selasa, 19 Agustus 2008

Ekslusif













Indonesia abad ini mengalami krisis multidimensional yang tak berkesudahan. Tidak cuma menyangkut hal-hal yang bersifat riil, namun juga yang bersifat moralistis. Kendala utama stagnasi negeri ini adalah soal kejujuran. Siapapun mafhum bilamana melihat keadaan anak bangsa di masa sekarang yang banyak tersangkut dengan kejujuran. Dari pejabat tingkat menteri, aparat penegak hukum, artis, hingga tokoh-tokoh masyarakat banyak yang terjangkit virus ketidakjujuran. Tidak jujur dengan orang lain, terhadap diri sendiri, dan tidak jujur terhadap Tuhannya. Menyedihkan namun begitulah kenyataannya.

Tidak usah mengambil contoh hal-hal yang naif, ambil satu contoh saja: korupsi. Ternyata budaya koruptif tidak mutlak hanya milik bangsa dunia ketiga dan tertinggal. Konon negara maju semisal Hong Kong membutuhkan waktu 20 tahun untuk merubah bangsanya menjadi terhormat. Sulit memang, namun akan lebih sulit lagi bilamana sifat dan perilaku pesimistis tetap dipelihara. Katakan bilamana bangsa yang mempunyai etos kerja tinggi saja membutuhkan 20 tahun, yang artinya membutuhkan 1 generasi untuk merubah paradigma, bagaimana dengan negeri ini yang memiliki lebih dari 13.000 pulau dan beribu-ribu suku bangsa. Hal ini semua didasari dari kejujuran yang sudah redup ditelan ombak kehidupan yang semakin keras tanpa menjunjung tinggi idealisme dasar bangsa yang bermartabat.

Disadari atau tidak, saat ini telah banyak kelompok-kelompok kecil masyarakat Indonesia yang percaya bahwa hal kecil yang baik bisa berdampak baik yang besar. Perlunya merubah sisi kehidupan yang lebih baik mesti bermula dari keluarga atau minimal dari diri sendiri. Lingkungan kondusif yang baik biasanya turut mempengaruhi cara pandang dan perilaku seseorang. Meski ada, tapi sangat jarang di zaman moderen saat ini kita temukan munculnya manusia-manusia unggul dari kalangan masyarakat yang tidak bermoral, tidak bermartabat, dan tidak beradab. Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Untuk itu tidak sepatutnya pula kita persalahkan berbagai kalangan besar maupun kecil yang berupaya untuk tidak terpengaruh oleh lingkungan yang dianggap menafikan norma-norma kemanusiaan dengan cara mengekslusifkan diri.

Memang terkesan kaku dan kurang populer, namun bisa jadi sangat efektif. Salah seorang rekan saya yang pernah wara wiri di jazirah Arab pernah bercerita bahwa untuk bisa masuk negara Arab Saudi, seluruh buku-bukunya dari Universitas al-Azhar Mesir miliknya disita. Ia menjelaskan hal tersebut wajar, karena Arab Saudi tidak menghendaki faham Wahhabi dan madzhab Hanbali-nya terpengaruh oleh arus pemikiran sekuler seperti Mesir, Turki dan negara-negara kapitalis lain. Apalagi bila menilik kehidupan para kaum wanita disana yang memang terkesan terisolasi oleh budaya paternalistik yang diturunkan Islam. Ada yang salahkah dengan hal ini? tidak juga. Bagi kaum moderat memang terasa berat, namun bagi kaum yang tunduk dan ikhlas terhadap apa yang sepenuhnya mereka yakini lahir batin, hal sedemikian rupa tidak terasa sulit. Salah satunya terbukti dari salah satu acara "HER WORLD" di Jak TV beberapa waktu lalu dimana perempuan-perempuan dari negeri `eklusif` ini dimintai pendapatnya oleh salah seorang reporter asing yang juga perempuan, apakah hidup 'terisolasi' seperti itu mengganggu mereka. Alhasil nyatanya tidak demikian. Bahkan banyak mereka yang meyakini bahwa itulah jalan terbaik bagi mereka yang hidup di negara tandus dan sarat kekerasan seperti Arab Saudi.

Kembali ke Indonesia. Toh sama saja. Melihat perkembangan lingkungan akhir-akhir ini, tentunya bisa jadi bagi beberapa kalangan yang menginginkan kebaikan tanpa terpengaruh rusaknya moralitas bangsa yang umum ditemui di koran dan televisi, ekslusifisme menjadi jalan alternatif untuk mengarahkan setiap anggota keluarganya menuju manusia yang berakhlaqul kaarimah. Apalagi dalam al-Quran manusia telah diamanatkan oleh Allah untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quw anfusakum wa ahlikum naaron".

Toh yang namanya ekslusif tidak selalu berkonotasi arogansi, jahat, ataupun negatif. Bisa jadi ekslusif merupakan proses awal untuk menjadi inklusif jika telah merasa kuat lahir dan batin untuk masuk ke dalam hidup yang serba tak menentu. Ya, apapun mesti dilakukan demi tercapainya cita-cita menjadi manusia yang tidak mudah terpengaruh. Bisa jadi caranya adalah dengan mengekslusifkan diri dalam arti positif. Jadi, masih takut dibilang ekslusif?.

image courtesy of dailymail.co.uk

Tidak ada komentar: