Rabu, 13 Agustus 2008

Keras Kepala


Memperhatikan berita akhir-akhir ini, tidak hanya soal korupsi di tubuh Bank Indonesia dan Kejaksaan Agung, tidak hanya soal kisah Ryan serial killer dari Jombang, tidak hanya soal Taufik Hidayat yang kandas di Olimpiade Beijing 2008. Ada hal kecil yang menarik, yakni soal isu dikemukakannya pengharaman rokok oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Saya teringat akhir tahun lalu pemerintah daerah DKI Jakarta sudah gembar-gembor akan larangan merokok di tempat-tempat umum beserta sanksi di tempat. Namun perubahannya terbilang minim. Manusia Indonesia itu dasarnya memang keras kepala. Di bungkus rokok sudah tertera bahaya apa saja yang timbul dari merokok, tidak peduli. Di rumah sakit rumah sakit, diberi penjelasan bahaya apa saja yang timbul dari 1 batang rokok, tidak digubris. Diberi sanksi tegas tidak boleh merokok di tempat umum, ya di bis kota saja merokoknya. Diberitahu merokok menimbulkan `kanker` (kantong kering), bilangnya "belum kaya kok takut miskin?". Diberitakan bahwa merokok mengurangi umur, jawabannya "urusan umur cuma Tuhan yang tahu". Susah banget sih... Sampai-sampai dalam hati saya pernah membuat pendapat sendiri bahwa "orang yang terbodoh di muka bumi ini adalah perokok". Bagaimana bisa? sudah jelas ditulis akibat apa yang timbul akibat rokok di bungkusnya, lho kok malah dihisap juga, apalagi secara langsung mereka menciptakan perokok-perokok pasif di sekitarnya. Ah, kenapa tidak minum Baygon sekalian? apa mungkin nikmat, gengsi, dan sensasinya berbeda ya? Mungkin jawaban mereka bakalan begini "Baygon lebih mahal dan nggak bisa dikantongi mas!", hahaha gawat deh...

Memang jika menilik dalil yang secara tegas melarang rokok di Qur'an dan Hadits tidak akan pernah letterlijk dijumpai. Yang ada mungkin dalil-dalil bab yang sebenarnya berhubungan dengan muamalah semisal:

"siapakah muslim yang afdhol itu?, Nabi shollallohu 'alaihi wassalaam: adalah muslim yang mana muslim lainnya tidak celaka karena ucapan dan perbuatannya".

Atau dalil bab larangan memubadzirkan harta yang dijumpai dalam al-Qur'an: innal mubaadziriina kaanuu ikhwaanas syayaathiin. sesungguhnya orang-orang yang mubadzir itu saudaranya para setan.

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang berkenaan dengan memubadzirkan dan merugikan diri sendiri.

Nah, alhamdulillah wa syukrillah, rupanya saat ini rokok sudah mulai dipandang lebih banyak mudharat-nya oleh pihak-pihak yang peduli dengan kesehatan global. Terutama pemerhati kesehatan anak-anak semisal Kak Seto. Menurut berita Beliau telah nyata-nyata meminta kepada MUI agar mengeluarkan Fatwa Haram bagi perokok. Tidak hanya Kak Seto, saya sendiri mengakui bahwa perokok itu bikin suasana nyaman jadi tidak nyaman. Contoh, saya biasa pagi-pagi berangkat kerja sembari menikmati sejuknya pagi. Tapi nyatanya setelah naik angkutan umum semisal mikrolet dan metro mini, mulailah terjadi polusi udara yang sangat mengganggu. Biasanya tidak sedikit diantara penumpang atau bahkan sopir pas-pus sendiri dengan berlagak asik tanpa peduli bahwa penumpang lain di sekitarnya terganggu atau tidak. Padahal biasanya disana ada anak-anak kecil yang mau sekolah, ibu-ibu yang mungkin mau ke pasar, dan karyawan-karyawan kecil kayak saya yang umumnya terganggu dengan ketidakpedulian mereka.

Memang kecil kemungkinan untuk merubah perilaku manusia Indonesia yang terkenal keras kepala untuk merubah kebiasaan jelek merokok. Namun hal sekecil apapun memang sudah saatnya dicoba. Bila penuturan saya diatas tadi menyebutkan dari sisi manapun jika tanpa kesadaran diri susah untuk berubah, sekarang mungkin saatnya `sedikit pemaksaan` yang difatwakan oleh MUI bisa merubah perilaku perokok. Sebab fatwa berhubungan dengan sisi agamawi terutama bagi mayoritas rakyat Indonesia yang memeluk Islam sebagai agamanya. Diharapkan dengan pengaruh dari sisi agamawi ini mayoritas masyarakat Indonesia akan tunduk dengan fatwa MUI, dan diharapkan perubahan signifikan menuju minimnya asap rokok dapat terwujud. Kita lihat saja proses hal ini berjalan. Jika dengan adanya fatwa masih tidak bisa merubah kenyataan seperti sebelumnya, maka pantas kita bertanya dalam hati: "Islam seperti apa yang ada di hati kebanyakan rakyat Indonesia saat ini?". Wallahu a'lam.

image courtesy of tuberose.com

3 komentar:

Is'mail mengatakan...

Apa g kasian sama industri yg sudah malang melintang di bisnis ini, ada solusi?

Teguh Prayogo mengatakan...

IMHO. sebelum beranjak pada solusi, baiknya kita percaya bahwa Allah SWT itu Maha Luas. saya rasa baiknya aset-aset perusahaan rokok tersebut dialihkan menjadi bisnis yang menguntungkan tapi tidak merugikan dan 'membunuh' banyak orang yang tidak berdosa.

dawud abd mengatakan...

yang punya solusi cara ninggalin kebiasaan merokok, bantu jawab di blog ku ya.. http://dawudabd.wordpress.com/2007/11/23/wwwstopmerokokcom-karena-perokok-pasif-juga-beresiko/#comment-148
dan http://dawudabd.wordpress.com/2008/01/23/tips-stop-merokok/