Senin, 11 Agustus 2008

Profesionalisme















Jika mendengar kata profesional, mengingatkan kita dengan orang-orang yang serba sempurna secara fisik. Bisa jadi baik secara fisik, mental, kondisi finansial, atau bisa jadi berusaha terlihat baik dan lebih baik dari orang lain. Nah, sekarang pertanyaannya: "apakah profesionalisme itu bergantung pada keluarga, penghasilan, pergaulan, atau pangkat individu tersebut?". Ah, tidak juga. Profesionalisme itu beragam saudaraku. Sebagai contoh, anda yang masih berstatus pelajar, profesionalisme ada pada tanggung jawab anda sebagai pelajar: belajar sebaik-baiknya. Bukan pacaran, bukan memakai obat-obat terlarang, bukan menyontek jawaban teman sekelas. Bagi seorang karyawan kecil, tidak jauh berbeda, bahkan profesionalisme seorang bawahan itu bisa berpengaruh terhadap hasil yang akan diperolehnya berupa uang atau modal hidup lainnya. Tidak ada ruginya menjadikan diri kita ini profesional. "Ah, saya kan cuma pedagang kecil, bagaimana saya bisa jadi seorang profesional?". Semua bisa menjadi profesional di bidangnya.

Ingat dalil ini dalam hadits Bukhori: idzaa wusidal amru ila-ghoiri ahlihi fan tadhiris sa-ah. ketika suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saatnya (saat kehancurannya).

Saya yakin, buat si pedagang kecil, insya Allah mereka lebih mampu menjalankan usaha kecilnya dibandingkan dengan seorang direktur perusahaan asing yang belum tentu mampu berdagang. Mereka (baca: direktur) belum tentu bisa mengedepankan amanah dan kejujuran dalam berdagang layaknya pedagang kecil, karena mungkin saja mereka terbiasa menyiasati laporan keuangan kepada petugas pajak :P

Contoh lagi, coba sesekali anda tinjau program di Trans TV yang terjudul: "Jika Aku Menjadi...". Semua kontestan disana merasa berat apabila diserahi tugas yang bukan bidangnya. Kalau mau lebih "wah" lagi, mungkin anda termasuk penggemar film komedi situasi: SIMPLE LIFE yang dibintangi oleh Paris Hilton. Bagaimana seorang Jet Set New York dan pewaris tahta pengusaha hotel Hilton begitu susahnya hidup di dunia yang berbeda. Semua itu menandakan bahwa memang profesionalisme berjalan sesuai jalur dan confort bagi orang-orang yang sesuai pula.

Nah, sudah saatnya kita bersama-sama meningkatkan kadar profesionalisme yang mungkin kita sendiri tidak menyadari bahwa kita bisa menjadi orang yang profesional. Segera tinggalkan paradigma menjadi manusia kelas dua. Kita harus menjadi manusia kelas satu, tentunya semampu kita. Profesionalisme memang butuh waktu, kerja keras, dan doa yang kontinyu. Menyoal profesionalisme ini contohlah saudara kita Budi Sudarsono (striker PS. Persik Kediri) dan Suryo Agung Widodo (sprinter tercepat se-Asia Tenggara), bagaimana profesionalisme membawa berkah dan manfaat bukan hanya bagi dirinya, bahkan kepada keluarganya. Atau, contohlah mubaligh-mubalighot kita yang mampu netepi dapukannya menyampaikan risalah Ilahi di masing-masing kelompok pengajian, dan lain lain. Karena tanpa ke-profesionalisme-an mereka, apa jadinya manusia-manusia yang masih jahil dalam mencari al-Haq ini.

"wal-ladziina jahadu fiina lanahdiyannahum subulanaa". dan orang orang yang mempersungguh di jalanKu, niscahya akan kutunjukkan jalanKu kepada mereka.

Ayo, sekarang saatnya mencoba untuk bersikap profesional bung!

picture courtesy of us.emb-japan.go.jp

Tidak ada komentar: