Rabu, 17 September 2008

Lemah Lembutlah Kawan

Ini adalah pengalaman atau apa yang sering saya perhatikan sehari-hari di dunia nyata maupun di dunia maya. Seringkali saya temui orang-orang yang merasa dirinya pol dewe (baca: merasa paling hebat dibanding orang lain). Pol dewe disini mengandung banyak hal yang bermula dari beberapa sisi kehidupan yang berbeda. Sebut saja ada seseorang dimana bisa dibilang ia memiliki kekayaan materi yang melimpah, namun entah sadar atau tidak, ia merasa seakan dirinya tak akan mungkin bisa miskin. Ada orang yang memiliki kekuatan atau pengaruh politik yang kuat, ia merasa seakan tidak akan ada orang yang bisa menggesernya dari singgasana kenikmatan yang selama ini ia rasakan. Ada orang yang memiliki bakat kepandaian (ilmu), ia merasa orang lain tidak ada yang bisa membandingi kepandaiannya, dan lain-lain.

Sebagai manusia, semua itu bisa dianggap wajar. Padahal manusia tidak selalu mendapatkan yang mereka inginkan dalam hidupnya. Kehidupan itu sebagaimana roda berputar. Kadang diatas, kadang dibawah. Dari contoh yang saya tulis diatas misalnya, ada konglomerat negeri ini yang kaya raya, namun saat ini tiba-tiba Allah merubah status dirinya menjadi pesakitan akibat kekayaan yang ia miliki ternyata berasal dari hasil korupsi dan dari kejahatan lain yang ia lakukan. Satu satunya jalan: lari ke luar negeri atau penjara!. Ada lagi kisah orang-orang yang merasa dirinya above the law (baca: tidak tersentuh hukum) tapi ironisnya mereka malah tertangkap basah melakukan praktik busuk melawan hukum dan melanggar etika profesinya sebagai penegak hukum. Ada pula politikus yang merasa dirinya memiliki posisi yang kuat, namun pada akhirnya tidak berdaya menghadapi lembaga negara yang masih bisa dibilang untouchable, KPK.

Thus, gambaran demi gambaran sudah jelas, sekarang mari kita bicara soal ilmu. Ilmu agama sangat penting bagi manusia yang ingin dirinya selamat di dunia dan akhirat. Namun sayangnya terkadang yang saya perhatikan, orang-orang yang merasa memiliki kepandaian (ilmu) soal agama, juga sadar atau tidak, bisa termasuk golongan orang-orang yang pol dewe alias merasa dirinya sudah hebat dan hidup di awang-awang. Merasa bahwa hanya mereka yang memiliki ilmu, orang lain tidak. Merasa dirinya benar sendiri, yang lain salah. Dirinya sendiri merasa paling suci, yang lainnya dipandang sebagai ahli bid’ah, ahlul-hawa’ secara membabi buta. Merasa paling shohih, yang lain dipandang dhaif dan maudhu’. Pola pikir seperti ini memicu penganutnya menjadi sempit pikirannya. Tidak ingin (tidak berani) melihat realita bahwa ilmu yang didapatnya sebenarnya baru sebagian kecil dari ilmu yang tersebar di muka bumi. Hal ini pula yang menyebabkan mereka menjadi orang-orang yang tidak mengenal kompromi terhadap sesama atas nama wala’ wal bara’, tidak peduli terhadap adab khilafiyah, tidak peduli terhadap kebenaran yang hakiki, cenderung sering memaksakan kehendak terhadap orang lain, dan bersikukuh bahwa apa yang mereka katakan adalah dalil yang shohih, bahkan terkadangan diperkuat pula oleh fatwa-fatwa ulama yang mu’tabar yang sejalan dengan pola pikir mereka.

Allah sendiri telah menegur Nabiyullah shollallohu ‘alaihi wassalaam di Surat Ali Imran, agar memiliki hati yang lemah lembut, tidak keras, tidak jummud dalam menyebarkan ad-diin.

Fa bimaa rohmatin minallohi linta lahum walaw kunta fadz-dzhon gholizhol-qolbi lan-fadhdhu min hawlika. Maka sebab rohmat dari Alloh maka lemah lembutlah engkau Muhammad pada mereka (orang beriman). Dan seandainya ada engkau Muhammad; keras – kejam hatinya, niscahya mereka akan lari dari sekitarmu.

Sekelumit kalam Alloh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wassalaam hendaknya sekali lagi mesti kita perhatikan bersama, terutama bagi yang merasa telah banyak ilmunya, bahwa orang-orang beriman jaman dulu saja dikawatirkan lari dan menjauh dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wassalaam bilamana sang Nabi tidak meramut orang-orang beriman dengan kelemahlembutan. Nah, sekarang mari berpikir ke depan. Bagaimana menurut anda, tanggapan dari orang-orang yang belum tahu Islam yang kaffah ini jikalau anda berdakwah seakan-akan anda sedang berdakwah di kalangan para malaikat Allah? Mungkinkah mereka lari dan malah menjauh dari diinul-haq ini jika anda tidak mau lemah lembut, selalu merasa diawang-awang, atau merasa benar sendiri? Wallahu a’lam.

image courtesy of indiejember.org

2 komentar:

dawud abd mengatakan...

postingnya terinspirasi dari apa om..

Teguh Prayogo mengatakan...

terinspirasi dari tingkah polah segolongan orang2 yg selalu merasa benar sendiri namun tidak pernah mawas diri... misalnya: (isi sendiri ya :p)