Minggu, 26 Oktober 2008

RIDHO

Salah satu cabang olah raga yang saya suka adalah sepak bola. Manchester United (MU) adalah klub sepak bola yang paling saya favoritkan. Ada beberapa sebab mengapa saya favoritkan klub sepak bola yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun ini. Yang sangat menyolok adalah budaya kerja MU yang bisa saya nilai lebih baik dibanding klub-klub sepak bola dunia lainnya. Mengapa saya tidak memfavoritkan klub-klub sepak bola lainnya yang mentereng semisal Barcelona, Real Madrid, atau AC Milan yang memang sepertinya selalu merasa perlu untuk dipenuhi pemain-pemain bintang? Jawaban saya cukup sederhana: karena di MU ada sosok Sir Alex Ferguson, seorang pelatih / manager yang tidak pernah silau oleh nama besar pemainnya sendiri, ia tidak memposisikan dirinya sebagai orang nomor dua, ia memiliki kemampuan mengasah bakat seorang pemain bola untuk naik ke level berikutnya, atau bisa dibilang selain memiliki kapasitas sebagai pelatih, ia juga mengerti bagaimana membawa MU ke tingkat yang paling tinggi di dunia sepak bola internasional.

Bila mau menilik lebih jauh bagaimana ia berhasil membangun era-nya sendiri di MU, kita bisa melihat langsung dari caranya me-manage klub ini. MU pernah memiliki era keemasannya sendiri pada zaman George Best dan Sir Bobby Charlton masih menjadi pemain bola disana. Setelah masa keemasanya hilang, akhirnya MU menemukan sosok Sir Alex Ferguson sebagai pelatih yang dianggap mampu membangun kembali kejayaan MU di masa depan. Sampai pada akhirnya, saat ini MU menjelma menjadi salah satu klub terkaya didunia dan menjadi salah satu klub sepak bola yang paling disegani. Bagaimana bisa? Ternyata yang saya perhatikan, formulasinya terlihat sederhana namun memiliki efek yang luar biasa dan saling memperkuat. Ia mampu menggabungkan antara seni dan kekuatan di dalam tim-nya. Tidak semua pemain MU memiliki nama besar semisal Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Ryan Giggs, dan Edwin Van Der Sar. Disana tetap ada Wesley Brown, Rafael, Luis Nani, Anderson, Darren Fletcher, Park Ji Sung, John O Shea, dan lain lain.

Ternyata dengan adanya pemain-pemain ‘kelas dua’ di klub sebesar MU, tidak menjadikan klub itu lemah. Namun hal itu justru menjadikan tim ini solid. Solid karena memang untuk mencapai sesuatu yang efektif mutlak diperlukan saling pengertian, saling mengalah, dan saling ridho untuk membiarkan pemain lain memainkan peran yang strategis. Ibarat rumah, si pondasi dan lantai ridho bahwa tempatnya dibawah, namun si atap juga ridho untuk ditempatkan diatas, kepanasan dan kehujanan. Hal-hal seperti ini rasanya malah mempermudah tugas Sir Alex Ferguson sebagai arsitek lapangan hijau. Karena ia tidak perlu dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang terlampau sulit untuk menentukan siapa yang akan maju bertanding. Meski pastinya ia juga menuntut optimalisasi skill masing-masing pemain di posisinya.

Hikmah dari apa yang dilakukan Sir Alex Ferguson untuk membawa MU menjadi sebuah klub yang kuat dan berwibawa adalah, jangan selalu menilai bahwa suatu organisasi pasti menjadi baik apabila didalamnya mutlak seluruh anggotanya adalah orang nomor satu. Bahkan 11 Robinho di Manchester City (MCFC) sendiri belum tentu bisa membawa klub tersebut begitu mudahnya naik ke level yang lebih tinggi. Karena bisa jadi organisasi itu malah menjadi stagnant, sulit berkembang, bahkan mudah terpecah belah karena semuanya merasa penting. Tanpa disertai sifat ridho dari masing-masing individu yang ada di dalamnya hal-hal semacam itu bisa menjadi kemungkinan. Maka bersyukurlah bagi orang-orang yang ada dalam suatu organisasi manapun, yang bisa ridho dan bisa membiarkan orang lain untuk memainkan perannya masing-masing, demi tercapainya cita-cita bersama.

image courtesy of desktoprating.com

3 komentar:

dawud abd mengatakan...

ada 1 bro yg lewat. sir alex suka memvonis loh, dia langsung sikat siapa aja pemainnya yg brani protes or beradu mulut dgnya..
btw, 2 musim ini gw dukung MU bcoz of tevez.. u know why.. gw adalah real albiceleste fans.. dukung messi mjadi pemain terbaik dunia tahun ini..!!

Fairhajj mengatakan...

Bravo MU, rasa2 nya di klub lain nggak ada pelatih yang sanggup bertahan sebegitu lamanya melatih sebuah tim sepakbola. Berarti memang metode kepelatihannya yang mantap dan kemampuan manajerialnya yang ok..
bravo MU...

Teguh Prayogo mengatakan...

@ Fairhajj

so pasti bro..!! hehe