Sabtu, 14 Februari 2009

Biarkan Hati Bicara

Saat ini makin banyak manusia yang haus akan ilmu agama (religi). Terbukti dari segala hal yang menyangkut religi, makin banyak dicari dan digemari. Sinetron, film, dan dakwah online, makin digemari umat saat ini. Sebaliknya, sinetron dan film yang berbau seks, drugs, alkohol, dan hedonisme makin banyak saja orang (dan kelompok massa berbasis keagamaan) yang menghujat dan melawan pengaruh buruk semacam itu sekuat tenaga mereka. Meski cara-cara vandalisme kerap dipergunakan mereka atas nama jihad fi sabiilillah.

Hal ini menurut saya memang sudah sangat wajar dan merupakan konsekuensi logis dari tingkat kebutuhan manusia. Agama atau religi memang masalah hati. Tanpa siar islam, tanpa siraman rohani, hati manusia bagai gurun pasir. Kering dan panas. Karena sifat hati manusia yang abstrak inilah, maka hati manusia hanya dapat dicukupi oleh hal-hal yang juga bersifat abstrak. Hati manusia tidak selalu dapat dicukupi oleh kenikmatan duniawi yang nyata. Kata orang, "dalamnya lautan bisa diselami, tapi dalamnya hati?". Ungkapan ini menandakan bahwa hati manusia tidak akan pernah ada puasnya. Mau bukti?

siapa manusia yang tidak pernah terbesit dalam hatinya untuk bisa hidup kekal selamanya?

siapa manusia yang tidak pernah terbesit dalam hatinya untuk bisa hidup mapan selamanya?

siapa manusia yang tidak pernah terbesit dalam hatinya untuk bisa hidup sehat selamanya?

siapa manusia yang tidak pernah terbesit dalam hatinya untuk bisa hidup tentram selamanya?
.

Ya, keinginan hati manusia diatas ini sangat manusiawi. Karena bagaimanapun, pada dasarnya hati manusia itu tidak akan pernah puas. Namun demikian, hati manusia juga bisa diatur. Cara mengaturnya mudah, tidak perlu sulit, yakni biarkan hati anda mendekatkan diri kepada Tuhan. Salah satu metodenya adalah memberi ruang di hati untuk dapat menerima hal-hal yang diperlukan demi keseimbangan hidupnya.

Saya pribadi termasuk percaya bahwa hakikat hidup manusia di dunia ini memerlukan keseimbangan. Nah, satu-satunya alat yang dimiliki manusia untuk menyeimbangkan hidupnya adalah hati. Maka, biarkan hati bicara untuk membimbing diri kita menuju kepada kebaikan. Jangan tutup hati anda dengan hal-hal yang tidak ada apa-apanya menurut penilaian Tuhan: kehidupan duniawi yang hanya sementara ini.

"Allohumma innaa nas-alukal jannata wa maa qorroba ilaiha min qoulin aw 'amalin. Wa na'udzubika minan-naar wa maa qorroba ilaiha min qoulin aw 'amalin".

Billahi Taufiq Wal Hidaayah. Wassalaamualaikum!

3 komentar:

Umi Rina mengatakan...

'siapa manusia yang hatinya tak pernah terbersit untuk menyempurnakan hidup dan ibadahnya dengan menikah???'... :)

dawud abd mengatakan...

Terbersit sih setiap hari kali bu.. ;-) memang cinta (menikah) juga urusan hati. Smoga dirimu sgera menemukan ketetapan hati itu..

Teguh Prayogo mengatakan...

a~miin.... jazaakumullohu khoiro atas perkelingnya kawan.