Senin, 23 Februari 2009

Hudan

Ketika pertama kali kita membuka-buka Kitab Suci Al Qur'an, kita dihadapkan dengan Surat Al Faatihah, yang mana esensi dari Surat tersebut adalah pujian kepada Allah Azza Wa Jalla, statement penyerahan diri manusia kepadaNya, dan permohonan manusia akan petunjukNya. Insya Alloh semua muslim hafal dengan Surat ini. Bahkan teman saya yang seorang non muslim saja hafal Surat yang satu ini.

Juga Surat berikutnya, Al Baqoroh, ayat 2 secara eksplisit menyebutkan: "dzaalikal kitaabu laa royba fiihi hudan lil muttaqiina", yang artinya adalah: "Kitab itu (Al Qur'an), tidak ada keraguan atasnya dan jadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa".

Muncul pertanyaan: "mengapa di dunia ini manusia membutuhkan petunjuk?".

Ternyata salah satu sebabnya dijelaskan pada Surat Al 'Ashr.

"wal ashr. innal insaana la-fii khusrin. illal ladziina aamanu wa 'amilus sholihati wa tawaashou bil-haqqi wa tawaashou bis-shobri".

"demi waktu Ashar. sesungguhnya manusia itu niscahya dalam keadaan rugi. kecuali orang-orang yang beriman dan beramal kebajikan, dan saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran".

Sekarang jelas sudah, bahwa manusia itu sebenarnya dalam keadaan rugi. Rugi itu nggak ada untungnya sama sekali. Jika manusia telah mati dan memasuki alam akhirat, rugi itu berarti neraka. Naudzubillah min dzaalik.

Analogi petunjuk adalah sebagaimana orang yang pergi untuk pertama kali ke suatu tempat. Ambil contoh kita yang dari Jakarta pergi ke Surabaya. Bagi yang belum pernah ke Surabaya, insya Alloh pasti selalu percaya dengan petunjuk-petunjuk di jalan raya bukan?. Jika pada suatu persimpangan jalan kita melihat petunjuk: "lurus - Surabaya, kanan - Kediri". Ya mau nggak mau kita mesti percaya dengan petunjuk arah itu, mau nggak mau kita mesti ambil jalan "lurus" agar benar-benar sampai ke Surabaya.

Itu gambaran petunjuk jalan. Di dunia, jika seketika kita salah jalan, masih ada jalan kembali. Namun tidak demikian jika menyangkut urusan akhirat, sekali tersesat, tidak ada jalan kembali pastinya. Kesempatan hidup dan beribadah di dunia ini hanya sekali saja. Dan waktu yang hanya sekali ini harus pas dan sesuai dengan kehendakNya pula. Terus, bagaimana kita agar pas sesuai kehendakNya, yang pula tersurat dalam Al Quran:
"wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya'buduuni",
dan tak Ku-ciptakan jin dan manusia kecuali (mereka) hanya untuk beribadah kepada-Ku.

Alhamdulillah, bersyukurlah bahwa kita semua masih diberikan "clue" agar tidak menjadi orang yang rugi.
"inna haadzaa shiroti mustaqiiman fat-tabiuuhu walaa tat-tabi'u subula fa tafarroqo bikum 'an sabiilihi",
sesungguhnya ini (Al Qur'an) adalah jalan yang lurus, maka ikutilah Al Qur'an! dan janganlah kamu mengikuti pada beberapa jalan (selainnya). yaitu (beberapa jalan) yang akan memecah belah (menyesatkan) kamu dari jalanNya.

Jelas, Al Quran adalah petunjuk yang sudah ditetapkan.

Muncul lagi pertanyaan: "lalu darimana kita bisa mengerti Al Qur'an secara utuh dan benar?".

Salah satu jawabannya ada dalam Surat An Nisa ayat 13 yang berbunyi:
"wa man yuthi'illaha wa rosuulahu yudkhil-hu jannatin...",
dan barang siapa taat kepada Alloh dan RosulNya, Alloh akan memasukkan orang itu ke dalam surga... dst.

Dan ada pada ucapan Baginda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam:
"taroktu fiikum amroin. Lan tadhilluu maa tamaasaktum bihi kitaabillahi wa sunnatin nabiyyihi",
telah ku tinggalkan 2 perkara yang tidak akan menyesatkan kamu selama berpegang teguh dengan keduanya: kitab Alloh dan Sunnah NabiNya.

Jadi kesimpulan sederhananya, untuk dapat mengerti ayat-ayat suci Al Qur'an diperlukan petunjuk lain yang mendukung, yakni sunnah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam, yang pada zaman ini tersurat dalam kitab-kitab Al Hadits.

Maka tidak salah bila kedua elemen ini menjadi dasar petunjuk yang sangat penting bagi kita semua untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki dan kebahagiaan dunia-akhirat. Anda, saya, dan kita semua. Mudah-mudahan kita semua tidak termasuk orang-orang yang rugi. A~miin...

image courtesy of scienceblogs.com

3 komentar:

Umi Rina mengatakan...

Bos, jazakallohu khoiro dah diingetin...:)

Gimana proyek 'Masa Depannya' ??? :D

Rey mengatakan...

".....selama berpegang teguh....." Maap mas, kalo saya kayaknya ndak bisa berpegang teguh, soalnya bukan mahrom. Nahh kalo berpegang2 kan malah dosa... :)

amilus mengatakan...

Ijin ngelink yah om, mas, pak?? jzk