Minggu, 10 Mei 2009

Menyok: The Special One

Menyok. Kata yang satu ini memang saya dapatkan pertama kali sewaktu 'mondok' di sebuah Pondok Pesantren di Jawa Timur. Tadinya menyok menurut saya itu sama dengan penyok. Dan penyok dalam bahasa anak Jakarta adalah 'mblesek' atau rusak akibat ditabrak. Ternyata menyok dalam bahasa Jowo Timuran itu ada dua makna. Yang pertama adalah daerah-daerah pedesaan di kota Lamongan, kota asal klub sepak bola nasional Persela Lamongan berasal. Yang kedua, menyok menurut bahasa Jowo Timuran artinya singkong, ketela, atau ubi kayu.

Dari bincang-bincang saya tentang kota kecil di Pantai Utara Jawa Timur ini dengan beberapa orang yang faham betul dengan kota Lamongan, banyak sekali informasi yang saya dapatkan. Terutama mengenai keadaan daerahnya yang konon banyak dipenuhi tanah berawa dan beberapa pengunungan kapur. Kesimpulan, kehidupan disana memang tergolong sulit bagi sebagian orang. Namun seperti biasa yang kita dengar, "lain ladang, lain belalang", keadaan lingkungan yang keras, membuat orang-orang 'menyok' terkenal keras dan pantang menyerah dengan keadaan. Mungkin salah satunya bisa kita lihat sosok alm. Amrozi bin Nurhasyim (1962-2008) yang juga terlahir di kota Pantura ini. Keras dan sangat fanatik terhadap apa yang diyakininya benar.

Apa yang saya ketahui mengenai orang-orang asal menyok, mereka memang luar biasa. Banyak para penyampai (mubaligh/ot) yang saya kenal banyak berasal dari Lamongan, terlihat lebih tangguh daripada orang-orang dari daerah lain. Tangguh disini maksudnya mereka mudah beradaptasi dimana mereka ditempatkan untuk menyampaikan risalahNya. Konon katanya karena banyak diantara mereka (mubaligh/ot) yang bertaraf kehidupan serba kekurangan di kampungnya. Meski demikian, saya tidak begitu yakin dengan hal hal semacam itu. Yang saya percaya adalah, sifat adalah sifat, tidak bisa terwakilkan dengan strata sosial. Sifat tangguh yang dibawa mereka adalah sifat turun temurun dari orang orang tua mereka insya Alloh.

Makna menyok yang kedua adalah singkong. Ini juga luar biasa. Bagi saya, makanan satu ini adalah simbol kekuatan adaptasi. Artinya bisa berubah wujud apa saja tanpa meninggalkan keaslian atau esensi dirinya. Nggak percaya? coba hitung, berapa jenis makanan yang bisa dibuat dari singkong? banyak. Keripik singkong, tiwul, talam, gethuk lindri, misro, comro, dan lain-lain. Tinggal bagaimana maunya si juru masak, singkong bisa menjadi apa saja. Dari makanan ndeso sampai makanan priyayi.

Jadi, menyok (singkong) bisa saja bentuknya tetap konvensional seperti apa adanya. Tapi alangkah baiknya singkong itu mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi lagi dari biasanya. Caranya bagaimana? tentunya dengan cara dirubah bentuknya menjadi makanan/kudapan priyayi. Agar harkat dan martabatnya luhur, menjadi makanan spesial alias the special one (a'lawna). Sebagaimana dalil dalam Al Quran: "walaa tahinuu walaa tahzanuu wa antumul a'lawna in kuntum mu'miniina".

Ya, ini cuma bicara tentang menyok, tapi bukan sembarang menyok, ini menyok the special one, alias menyok dengan paradigma baru, menyok dengan harkat dan martabat yang luhur :-)

image courtesy of resepbunda.worpress.com

Tidak ada komentar: