Sabtu, 23 Mei 2009

Musik dan Dilema Fatwa

Kawan, jika kita memperhatikan fenomena saat ini yang berkaitan dengan praktek-praktek ibadah bagi para muslimin, tentunya banyak sekali perbedaan yang menyolok antara satu harokah dengan harokah islamiyyah lainnya. Perbedaan ini tidak hanya dialami oleh pihak-pihak dalam 4 madzhabiyyah saja, bahkan beberapa kelompok ummat yang sama-sama berpegang dengan al-Qur'an dan al-Hadits non-madzhab pun tidak luput dari perbedaan-perbedaan pandangan atas 1 hujjah yang sama. Walhasil ummat (awwam) menjadi bingung akan perbedaan fatwa (pendapat) dari kalangan ulama yang ada saat ini.

Sebagai contoh antara lain mengenai haram atau tidaknya musik. Contoh ini saya nukil karena setiap hari kita sangat mudah menjumpai musik dalam keseharian kita. Di radio, televisi, internet, bahkan di komputer kantor masing-masing.

Pandangan Ulama Yang meng-Haramkan:

Dasar-dasar hujjah:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya : “dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan
Perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan
Allah.” (QS. Luqman : 6)

“Akan ada suatu kaum dari umatku menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik” Maksudnya, menghalalkan zina, khamr, sutera padahal ia adalah lelaki yang tidak boleh menggunakan sutera, dan menghalalkan alat-alat yg melalaikan (alat musik).” [Hadits Riwayat Bukhari dari hadits Abu Malik Al-Asy'ari atau Abu Amir Al-Asy'ari]

Dari Umar bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. berkata tentang umat ini: "Gerhana, gempa dan fitnah." Berkata seseorang dari kaum muslimin: "Wahai Rasulullah kapan itu terjadi?" Rasul menjawab: "Jika biduanita, musik dan minuman keras dominan" (HR At-Tirmidzi)

"Lonceng adalah nyanyian setan ." (HR. Muslim)

Siapa yang selalu mendengarkannya maka persaksiannya tidaklah diterima sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Akan ada dari umatku orang-orang yang menghalalkan khomr, babi, sutera dan musik.” (HR. Bukhori)

Dan didalam lafazh yang lain disebutkan, ”Ada orang-orang dari umatku yang akan meminum khomr, menamakannya dengan bukan namanya, memainkan musik diatas kepalanya dengan alat-alat musik dan para penyanyi wanitanya maka Allah akan menenggelamkan mereka kedalam bumi dan menjadikan sebagian dari mereka menjadi monyet dan babi.” (HR. Ibnu Majah)

Syarat lain:

Tidak ada syarat. Mutlak Haram.

--- *** ---

Pandangan Ulama Yang Tidak Meng-Haramkan.

Dasar-dasar hujjah:

Imam Al-Haramain dalam kitabnya, An-Nihayah dan Ibnu Abi Ad-Dunya yang menukil dari Al-Itsbaat Al-Muarikhiin; bahwa Abdullah bin Zubair memiliki budak-budak wanita dan gitar. Dan Ibnu Umar pernah kerumahnya ternyata disampingnya ada gitar, Ibnu Umar berkata: Apa ini wahai sahabat Rasulullah saw?. kemudian Ibnu Zubair mengambilkan untuknya, Ibnu Umar merenungi kemudian berkata: "Ini mizan Syami (alat musik) dari Syam". Berkata Ibnu Zubair: "Dengan ini akal seseorang bisa seimbang".

"Suatu ketika Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam masuk ke bilik 'Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata: "...dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi."), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: "Biarkanlah mereka karena sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini." (HR. Bukhari)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyenandungkan sya'ir Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung:

"Ya Allah tiada kehidupan kecuali kehidupan akherat maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin."

Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain:

"Kita telah membai'at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad."

Ketika menggali tanah bersama para sahabatnya, Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga bersenandung dengan sya'ir Ibnu Rawahah yang lain:

"Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita tidak mendapat petunjuk, tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan shalat. Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan pendirian kami jika bertemu (musuh) Orang-orang musyrik telah mendurhakai kami, jika mereka mengingin-kan fitnah maka kami menolaknya." Dengan suara koor dan tinggi mereka balas bersenandung "Kami menolaknya, ... kami menolaknya." (Muttafaq 'Alaih)

Aisyah ra mengisahkan seorang perempuan bernyanyi di samping seorang sahabat dari Anshar, kemudian Nabi saw berkata. "Hai Aisyah, itu bukanlah main-main (lahwun), karena orang-orang Anshar memang mengagumi hal itu." [HR. Bukhari dan Ahmad]

Sahabat Amir bin Sa'ad mengisahkan. "Aku mendatangi Qardzah bin Ka'ab dan Abi Mas'ud al-Anshari pada suatu pesta perkawinan, kulihat beberapa hamba sedang bernyanyi. Kemudian aku menegurnya. "Adakah sahabat Nabi saw, ahli perang badar melakukan hal ini di antara kalian?" Mereka menjawab: "Duduklah, kalau suka, dengarkan bersama kami. Kalau tidak, pergilah. Kita telah diberi keringanan dalam pesta pernikahan." [HR. Nasa'i dan Hakim]

Abu Mansour al-Baghdadi al-Syafi'i dalam bukunya As-Simaa' menyebutkan, Sahabat Abdullah bin Ja'far berpendapat tidak ada masalah dengan lagu, ia mendengarkan lagu-lagu yang dipetik hambanya. Hal itu ia lakukan pada masa kekhalifahan Ali ra. Begitu juga sahabat lainnya, Kadhi Syureih, Sa'id bin al-Musayyab, Atha' bin Abi Rabah, Az-Zuhri dan al-Sya'bi.

Syarat lain:

1. Tidak diniatkan untuk masiat kepada Allah swt.

2. Tidak berlebih-lebihan didalam menikmati maupun mendengarkannya sehingga melalaikannya dari perkara-perkara yang diwajibkan, seperti: sholat, mengingat Allah maupun kewajiban lainnya.

3. Para pemainnya tidak menampilkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan atau dilarang agama.

4. Bait-bait syair lagunya tidak bertentangan dengan adab dan ajaran islam, seperti mengandung kemusyrikan, pelecehan, jorok dan sejenisnya.

5. Tidak diadakan di tempat-tempat yang mengandung syubhat, kemunkaran atau diharamkan, seperti di tempat yang dibarengi dengan minuman keras, dicampur dengan perbuatan cabul dan maksiat.

--- *** ---

Nah, kedua hujjah diatas memang sama kuat. Maka, saran saya sebagai orang awwam baiknya adalah:

1. Meski mubah, namun janganlah mengekalkan musik. Apalagi sampai melalaikan ibadah wajib dan sunnah.

2. Sesuai dengan kalam Ilahi dalam surat al Mu'minuun: "walladziina hum 'anil laghwi mu'ridhuuna". (org iman adalah mereka yang menjauhi barang lahan/laghwun). Sebisa mungkin menjauhi dengan dzikrullah atau nderes materi-materi dakwah dalam Qur'an dan Hadits.

3. Selalu memandang ijtihad-ijtihad ulama/fuqoha yang berlaku saat ini. Salah satunya adalah ini: "Tidak boleh menyanyikan lagu-lagu yang syirik".

4. Tidak mengharamkan sesuatu yang memang sebenarnya mubah (boleh-boleh saja). Meskipun ada sebagian ulama Mekkah Medinah yang mengharamkan musik, itu wajar saja. Namun tentunya hal tersebut erat kaitannya dengan realitas yang terjadi di Arab sana, yang belum tentu sama realitas-nya di negara lain. Bisa saja suatu saat keluar fatwa: "Facebook, Friendster, dan Blogspot termasuk haram hukumnya" di suatu negara apabila bermain Facebook, Friendster, dan Blogspot dianggap telah mengkhawatirkan moral generasi muda dan ummat.

5. Bersyukurlah kepada Alloh jika memang telah mampu menjauhi segala macam laghwun, tidak hanya musik. Namun janganlah bersikap seolah-olah paling 'hebat' sendiri (pol dhewe) dibandingkan orang lain, yang belum tentu ilmu mereka jauh dibawah kita.

Demikian. Mudah-mudahan wawasan mengenai musik dalam islam ini semakin memperkaya kadar ilmu agama kita semua. Agar sebagai awwam kita menjadi lebih luas jangkauan ilmu-nya dan tidak jumud (kaku) mengenai hal ini. Amiin Yaa Dzal Jalaali Wal Ikrom.

Billahi taufiq wal hidaayah. Wassalamu'alaikum!

image: dave mustaine of megadeth

Tidak ada komentar: