Jumat, 12 Juni 2009

Pembayaran Zakat Fitrah Dengan Menitipkan Uang

From: Ricky Julianto <___@ yahoo.co.id>
Subject: [LDII] Pembayaran zakat fitrah dengan menitipkan uang
To: ldii@yahoogroups.com
Date: Friday, June 12, 2009, 10:27 AM

Assalamualaikum Wrwb,

Saya ada pertanyaan yang mengganjal selama ini yang dilakukan menjelang iedul fitri, yaitu ada sebagian kaum muslim menitipkan uang untuk dibelikan zakat berupa beras.

Padahal aturan yang berlaku -sesuai sunnah- adalah kita wajib mendatangkan zakat sebagaimana dikutip dalam alquran "fa-aatuzzakat" yang artinya maka datangkanlah zakat bukan menitipkan uang untuk dibelikan beras oleh amil zakat.

Ataukah mungkin ada dalil atau hadits yang menceritakan atau menjelaskan bahwa rasululloh telah pernah melakukan perbuatan tersebut -yaitu menitipkan uang untuk dibelikan beras- pada zamannya ?

Saya khawatir bahwa hal tersebut sangat bertentangan dengan hukum2 Alloh dan Rasulnya [bid'ah]. Padahal hukum Alloh dan Rasul telah jelas. Apakah karena untuk memudahkan orang melakukan pembayaran zakat -mungkin orang tidak sempat dikarenakan pulang kampung dan lain hal- kemudian diperbolehkan/ malah dianjurkan menitip uang untuk dibelikan beras?

Saya berharap sekali ada penjelasan hukum mengenai hal ini untuk menjaga kemurnian Quran hadits yang selalu kita dengung2kan.

Mohon pencerahannya.

Ajkh
wassalaam,

------------------------------------------

jawab:

wa'alaikum salam,

bismillah.

pak Ricky Julianto Ysh.

zakat fitrah merupakan kewajiban setiap manusia yg masih hidup. walaupun bayi merah yg baru lahir, tetap saja berkewajiban utk dibayarkan zakatnya. sesuai dalil dalam salah satu hadits yg kebetulan sy ingat:

Farodho rusuulullohi shollallohu 'alaihi wassalaam zakaatal fithri sho'an min tamrin aw sho'an min syaiirin 'alal abdi wal hurri wadz dzakari wal untsa wash shoghiiri wal kabiiri minal muslimiin. wa amaro bihaa an tuadda qobla khurujin naasi ilash sholaat. - Bukhori

"Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalaam mewajibkan ZAKAT FITRI dengan 1 sho' (2,7 kg, atau 3,5 liter) kurma atau gandum. (zakat fitri ini) WAJIB atas budak, orang yang merdeka, laki, perempuan, anak kecil, dan orang dewasa (dari umat islam). Dan Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalaam memerintahkan agar membayar ZAKAT FITRI sebelum para manusia keluar untuk sholat ied".

bagaimana prakteknya?

jika mau menilik dan merajihkan hadits ini saja utk bicara soal zakat fitrah, kiranya setiap muslim dimana saja mesti menanam pohon kurma atau gandum dari sekarang. sebab mau tidak mau, tidak perlu kita bertanya soal titip menitip... berzakat dengan beras saja sudah menyelisihi aturan yg digariskan oleh Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalaam. karena zaman Nabi saw tidak ada satupun manusia yg berzakat dengan beras. bukan begitu?

padahal, yg dimaksud Nabi wajib dikeluarkan zakat-nya adalah makanan pokok suatu kaum. apalagi memang saat ini islam sudah menyebar ke berbagai belahan bumi yg tentunya akan menemui berbagai corak budaya yg ada di masing2 negara termasuk makanan pokok. (maaf, utk membahas ini saya jamin bakalan panjang, baiknya Bapak bertanya lbh lanjut kepada para ulama kita tidak di forum ini).

titipan

mengapa ada kelakuan sebagian muslim yg menitip uang utk zakat? tentunya soal ini bukan menjadi esensi pengguguran membayar zakat itu sendiri. itu hanya masalah sikon yg tentunya tidak bertentangan dg hujjah ditinjau dari sisi mana pun. bagi ummat islam yg mengerti kewajiban zakat, tentunya apapun akan dilakukan utk menggugurkannya, whatever it takes. bahkan Nabi saw sendiri tidak ingin umatnya sulit sehingga ummatnya malah menjauhi al-haqq/islam.

Nabi saw bersabda: "Yassiruu Wa laa Tu-assiruu, Basshiruu Wa laa Tunaffiruu".

Mudahkanlah dan janganlah kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat mereka lari (dari al-haqq).

maka suatu saat nanti bisa saja, ada seorang muslim yg kontrak kerja di Africa yg disana tidak ada seorang muslim pun! namun ia tetap membayar zakat, whatever it takes... ya bisa saja ia membayar zakat dengan transfer uang kepada amil zakat-nya. apakah demikian ini termasuk terminologi bid'ah? tidak.

soal "fa aatuz zakaat" --> datangkanlah zakat. tidak serta merta secara letterlijk artinya harus datang sendiri mengantarkan zakatnya.

sama seperti "wa aqiimus sholaah" --> dirikanlah sholat. kalau si fulan itu sedang sakit (udzur), apakah sholatnya harus tetap berdiri sedangkan ia hanya bisa berbaring?

"fa-aatuz zakaah" ini sendiri maknanya menjalankan kewajiban zakat-nya sebelum masuk 1 syawal. silakan lihat lagi hadits2 shohih-nya.

jadi sekali lagi, insya Alloh hal2 teknis semacam ini masih diperbolehkan. dan agar tidak bingung, sebaiknya Bapak bertanya dulu kepada para ulama2 mengenai apa definisi bid'ah itu sendiri. demikian penjelasan saya yg serba sedikit, karena niat saya memang supaya pak Ricky bertanya langsung dengan ulama2 yg wara' dan mengerti soal ini.

ya, islam itu tegas, namun tetap memerlukan ilmu utk menjalankannya.

Ali bin Abi Thalib ra: "man arodad dunya fa'alaihi bi 'ilmi. man aroda aakhirota fa'alaihi bi 'ilmi. wa man aroda humaa fa'alaihi bi 'ilmi".

siapapun yg menghendaki kehidupan dunia - raihlah dengan ilmu
siapapun yg menghendaki kehidupan akhirat - raihlah dengan ilmu
siapapun yg menghendaki kehidupan dunia-akhirat - raihlah dengan ilmu

so, berhati2 (muttawari') itu baik, tapi muttawari' yg berdasarkan ilmu dan tidak berdasarkan pendapat2 pribadi itu pasti lebih baik. agar menjadi muslim sejati dan tidak gampang terbingungkan oleh fenomena saat ini.

wallohul-musta' aan walaa hawlaa walaa quwwata illa billah.

syukron wal-hamdulillahi jazaakallohu khoiro.

cmiiw,
Teguh Prayogo

Tidak ada komentar: