Minggu, 28 Juni 2009

Rezeki yang Halal

Saat ini banyak orang bilang bahwa mencari pekerjaan yang haram saja sulit, apalagi pekerjaan yang halal. Benarkah sudah sedemikian sempitnya dunia ini?.

Saudaraku, ketahuilah bahwa memang tanda akhir zaman adalah banyak bermunculannya hal-hal yang semakin sulit untuk dihindari. Beberapa diantaranya adalah hilangnya ilmu (agama), tersebarnya perzinahan, banyak terlahirnya anak dari hasil perzinahan, orang yang meminum arak (minuman memabukkan) semakin banyak, dan satu hal yang perlu kita cermati lagi adalah dimana saat itu orang sudah tidak peduli lagi akan pekerjaan (maisyah) yang halal atau yang haram. Karena bagi mereka urusan perut nomor satu, urusan akhirat bisa diatur.

Salah satu dalil yang sangat menggugah isi hati saya adalah atsar Rosuululloh shollallohu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Muhammad bin Ismail al-Bukhori:

'an Abi Hurayroh, 'anin Nabiyyi shollallohu 'alaihi wasallam qola "laya'tiyanna 'alan-naasi zaamanun laa yubaalil mar-u bimaa akhaadzal maala, amin halaalin am min haraamin".

Niscahya suatu zaman akan benar-benar datang kepada manusia, dimana mereka tidak peduli Halal atau Haram dalam mencari harta.

Saudaraku, bila mau merenung sejenak akan risalah Rosuululloh shollallohu 'alaihi wasallam dalam hadits ini, sudah semestinyalah kita semakin berhati-hati. Bila perlu, muhasabah atau mawas diri secara intensif. Selalu bertanya kepada diri sendiri: "apakah yang saya lakukan dari pagi hingga malam demi keluarga dan demi diri sendiri ini sudah terbebas dari hal-hal yang diharamkan Alloh? atau belum?". Ya, sepatutnya kita menjadi lebih berhati-hati layaknya orang yang sedang berjalan diantara pepohonan yang berduri.

Namun memang diakui bahwa persoalan mencari harta (maisyah) ini sangat personal dan sensitif sekali. Tidak perlu menjadi vonis sepihak bagi pihak yang memang layak memberi fatwa, akan tetapi juga tidak boleh hal semacam ini diremehkan oleh kita yang memang perlu diberi fatwa agar tetap dalam jalanNya yang benar (shirothol mustaqiim). Perlu pemahaman yang mendalam agar seseorang mengerti esensi dari warning sign diatas untuk kemudian dapat dengan sadar dilaksanakan semampunya karena mengharap ridho Ilaahi.

Jika memang ada niat baik untuk merubah arah hidup ke arah "kehalalan dan menjauhi kemaksiatan", yakinlah bahwa Alloh 'Azza Wa Jalla akan senantiasa menolong kita. Sesuai dengan ayat suci al-Qur'an yang menyebut:

"...wal ladziina jahadu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa"

...dan bagi orang-orang yang mempersungguh dalam jalanKu, niscahya Aku akan menunjukkan jalannya.

Sebaliknya, bila masih ada perasaan meremehkan hal-hal seperti ini, ketahuilah bahwa hal tersebut berbanding lurus dengan orang yang menjual agamanya pada urusan duniawi, tidak peduli bagaimana urusannya kelak di hari penghisaban nanti.

"...yabii'u ahaduhum diinahu bi 'arodhin minad dunyaa".

...mereka menjual (menukar) agamanya dengan harta dunia.

Artinya, demi harta dunia mereka tidak segan-segan membuang keimanan yang ada dalam dirinya. Maka, bertanyalah sekali lagi: "masih adakah sifat seperti itu dalam diri kita?". Na'udzubillahi min dzaalik. Mudah-mudahan kita senantiasa dijauhkah dari hal semacam itu. Mudah-mudahan kita selalu diberikan maisyah dan rezeki yang halal oleh Alloh 'Azza Wa Jalla. A-miin.

image courtesy of mccullagh.org

3 komentar:

Umi Rina mengatakan...

"Allahummar ridzqon haasanan waasian haalalan thoyyiban mubaarokan wa anta khoiror roodziqiin..." amiin

Teguh Prayogo mengatakan...

@ Umi Rina > Allohummar-Zuqnaa Rizqon Hasanan Waasi'an Halaalan Thoyyiban Mubaarokan Wa Anta Khoirur-Roziqiina. :)

Febry Andika mengatakan...

Mau naxa klo kita mankulx lewat internet gini yg udh ad sandaran dalilx it boleh ap tidk...