Jumat, 05 Juni 2009

TakaLLama Ba'dhu AhLiL Hadiits

Assalaamu'alaikum.

Poro sedulur... meski kita sudah sering mengkaji hadits-hadits besar, terkadang lupa bahwa ada suatu hikmah yang menurut saya penting untuk diperhatikan dan dicontoh. Terutama contoh dari para pengumpul hadits ('ulama us-sholihiin), semisal Ashabus-Sittah, dalam menentukan derajat suatu hadits. Karena, mereka inilah orang-orang pilihan Alloh Ta'ala yang diberkahi ketelitian dalam menentukan derajat hadits dari atsar yg berbeda-beda dan panjang. Subhaanalloh...

Dalam menentukan derajat hadits, mereka tidak segan-segan mengangkat issue yang sudah sewajarnya diangkat, dengan terlebih dahulu bermusyawarah dengan para guru-nya, atau dengan para ulama se-level mereka.

Contoh: seringkali atsar yang datang kepada si pengumpul hadits tersebut memiliki cacat ('illat hadits). Maka dicarilah darimana asal arah cacat-nya. Bisa jadi dari arah matan, bisa juga dari arah sanad-nya. Semua itu dicari dengan penuh ketelitian dan bertumpu pada penyaksian-penyaksian orang yang memberikan ilmu kepadanya secara manqul (as-sama'/transmitted).

Misalnya: Abu Abdulloh Muhammad al-Bukhori bertanya kepada ayahnya Ismail bin Mughiroh, atau Abu Isa at-Tirmidzi bertanya kepada salah satu gurunya Muhammad bin Idris as-Syafi'i, dan lain-lain.

Nah apapun yg terjadi, biasanya para ulama tersebut saling memberi kesaksian secara ilmiyyah atas sesuatu yang mereka anggap baik atau cacat menurut undang-undang ilmu hadits. Jika ada cacat atau ada yang diperselisihkan, biasanya kita akan menemukan tulisan semacam ini dalam hadits mereka:

وَقَدْ ‏‏تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِي ****** ‏‏وَهَكَذَا رُوِيَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ ‏‏أَصْحَابِ النَّبِيِّ ‏‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Beberapa ahli hadits telah membicarakan si Fulan... dan seterusnya".

Maksudnya, si Fulan telah menjadi bahan pembicaraan beberapa ahli hadits, karena setelah diteliti, mereka melihat adanya ketidakwajaran dalam hal yang spesifik dalam diri atau atsar/hadits yang dibawa oleh si Fulan tadi.

Bagi mereka (baca: pengumpul hadits), sesuatu yang perlu diangkat, ya wajib diangkat, dibicarakan, dan diumumkan kepada khalayak dalam kitab-kitab hadits mereka apa adanya. Dengan tujuan agar umat tahu bahwa atsar/hadits tersebut mempunyai cacat. Dan telah disepakati oleh jumhur 'ulama bahwa hal semacam itu tidak termasuk ghibah (bergunjing). Karena memang bagi seorang pengumpul hadits hal tersebut memang sangat penting, agar umat tahu siapa saja perowi hadits yang kurang baik; dari sisi hafalan, kredibilitas (tsiqoh), integritas, atau lain-lain.

Pada akhirnya, mekanisme ini juga akan langsung mempengaruhi kredibilitas salah seorang perowi hadits yang dibicarakan. Entah nantinya ia disepakati oleh para ahli hadits sebagai perowi yang tidak tsiqoh (kredibel), majhul (tdk dikenal), atau munkarul hadits.

Ini semua terjadi tidak dengan cara-cara spontan dan sederhana, tapi melalui proses yang lama dan melalui konsensus para 'ulama (baca: para pakar dan ahlinya) dan tidak parsial sifatnya. Mengapa? sebab tanpa kesepakatan bersama, dikhawatirkan akan timbul fitnah atau su'-zhon yang lebih besar di kemudian hari. Karena itulah perlunya ilmu, ketelitian, keahlian, dan tentunya kehati-hatian dalam bertindak.

Demikianlah secercah hikmah yang perlu kita ketahui agar Alloh Ta'ala senantiasa memberi pertolonganNya kepada kita semua. Ayo, tetaplah semangat saudaraku.. tetapi jangan lupa, muttawari' (berhati-hati) itu perlu.

Billahi Taufiq wal Hidaayah.

Wassalaamu'alaikum.

image courtesy of al-ghurabaa.org

Tidak ada komentar: