Kamis, 20 Agustus 2009

Kata kata adalah Amanah

DR. Aidh Abdullah Al Qarni (penulis buku La Tahzan)
Majalah Tarbawi, edisi 209, 9 Juli 2009

------ *** -------

Syariat Islam kita memerintahkan kita wajib mengevaluasi diri, tentang apa yang telah terucap dan apa yang kita tulis. Sebab, apa yang kita ucapkan itu termasuk dari perbuatan kita. Ada orang yang mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa dilandasi ilmu. Ia mengeluarkan pendapat dan berfatwa dalam urusan agama dengan kebodohan. Berbicara tentang masalah aqidah dan ibadah tanpa kehati-hatian dan tanpa sikap wara’. Menurut dirinya, apa yang dilakukannya itu benar, dan apa yang dilakukan orang lain itu pasti salah. Bila engkau setuju dengan fatwa yang dikeluarkannya, engkau akan dikatakan sebagai orang yang baik dan benar. Tapi bila engkau berbeda pendapat dengannya, engkau akan dikatakan sebagai sesat dan menyesatkan.

Ia mengatakan apapun yang ingin dikatakan. Mengucapkan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Bila mungkin, ia tuangkan apa yang ia ucapkan itu pada situs internet. Isinya adalah cacian dan kemarahan yang tidak pantas dilakukan kecuali oleh manusia yang tidak lagi memiliki akal dan begitu menyakitkan. Ia tidak menganggap ada Allah swt yang mengawasi dan menghitung apa yang dikerjakannya. Ia hanya mencaci dan menghina, menyatakan sesat dan mengatakan orang fasiq, mengklaim orang sebagai ahli bid’ah, atau bahkan orang kafir yang sama sekali tidak memiliki kebaikan. Ia tidak mengakui kebenaran dan tidak memandang sisi positif apapun. Ia sama sekali tidak bangga dengan kebaikan orang lain, melainkan hanya bekerja mengumpulkan kesalahan demi kesalahan, kekeliruan demi kekeliruan pihak lain. Bahkan, terkesan senang dengan kesalahan orang lain.

Di antara bahaya yang paling berat bagi ummat ini, adalah ketika ada orang yang berbicara tanpa etika, berfatwa tentang sesuatu tanpa pendalaman kasus, menyampaikan sesuatu yang tidak dipahami orang, dan cenderung mengeksploitir kekurangan dan kesalahan orang lain, untuk menjatuhkan dan menghinakannya. Ia mempunyai sensitifitas tinggi dalam mengail kesalahan orang.

Jika mendengar ada seseorang dipuji, ia lebih ingin mengatakan bahwa pada diri orang yang dipuji itu ada kekeliruan ini dan itu. Ia melihat sisi gelap dari pihak lain, dalam bicaranya. Memelihara kesalahan orang lain yang mungkin sedikit. Pemerintah dalam pandangannya semua adalah kejam dan zalim. Para ulama dalam pandangannya, semua adalah orang-orang yang mecari muka. Para juru dakwah, dalam pandangannya, semuanya adalah para pemburu dunia. Para mahasiswa yang tengah mendalami ilmu agama, dalam pandangannya, semuanya gagal. Masyarakat yang menjalani agama, menurutnya, semuanya bodoh. Para pengusaha, menurutnya, semua pelaku riba. Para penyair, dalam pandangannya, semuanya pendusta.

Sedangkan dirinya, dalam pandangannya, adalah orang yang paling zuhud di zamannya. Manusia langka di zamannya yang mendapat dukungan Allah swt, dalam pandangannya. Ialah yang bertugas menghakimi kesalahan dan memberi petunjuk orang yang dianggap salah. Ialah yang menyesatkan orang selain dirinya karena kesalahan yang mungkin diampuni oleh Allah swt. Ialah yang paling sedikit kesalahan dan kekurangannya. Jika dikatakan kepadanya, “Bagaimanakah sikap kita saat ini dibandingkan dengan sikap Rasulullah saw yang lemah lembut?“, Ia menjawab, “Bagaimana sikapmu dibandingkan dengan sikap para ulama salaf seperti Ibnu Mubarak atau penerus ulama salaf seperti Abdullah bin Baz?“. Padahal, seharusnya ia bisa melihat bagaimana peri hidup dua ulama besar itu yang sangat berlapang dada, baik dan sopan dalam ucapannya, lemah lembut bersikap terhadap orang lain, rendah hati terhadap hamba-hamba Allah, jauh dari perilaku ghibah membicarakan aib dan kekurangan orang lain. Peri hidup mereka bersih, bening, dipercaya, dan bisa diterima oleh banyak orang, baik orang awam maupun khusus.

image courtesy of in-tecom.net

Tidak ada komentar: