Selasa, 18 Agustus 2009

Waspadalah...!!

Assalaamu'alaikum.

Rekans, bila anda sering mampir ke situs-situs Islami yang ada saat ini, mungkin anda akan menjumpai suatu kelompok muslim (meski tidak pernah mau mengakui sebagai kelompok) yang giat sekali berdakwah dengan cara-cara "unik". Ya, unik karena kebanyakan mereka lebih mengedepankan ego, urat syaraf, dan anti menerima nasehat bil ma'ruf dari selain "kelompok"-nya, kecuali yang nasehat adalah para syaikh dari daratan Hijaz :)

Kelompok muslim ini selalu mengaku bahwa merekalah satu-satunya pengusung dakwah Islamiyyah yang benar menurut manhaj salafus sholih (3 generasi awal umat Islam). Namun dari hasil penelitian beberapa rekan termasuk saya pribadi, terkadang apa yang mereka lakukan untuk syiar Islam, ternyata masih jauh dari dakwah hikmah bil hal wa bil qoul. Dari beberapa pengamatan langsung teman-teman kami di Indonesia terhadap kelompok "minoritas" ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa telah terjadi missing link bahkan diantara sesama kelompok yang se-aliran ini. Adapun aliran islam ini sering disebut dengan istilah salafi.

Salafi merupakan klaim orang-orang yang beristinbath pada manhaj salafus sholih, yang ternyata masih terlalu agung untuk disematkan kepada beberapa kelompok muslim yang lebih mengutamakan akal dan menisbikan realitas yang ada, khususnya di bumi Indonesia ini. Semua ijtihad dari Saudi Arabia, Yaman, Kuwait, atau negara-negara Timur Tengah lainnya coba mereka terapkan secara membabi buta di negara yang sangat majemuk ini. Majemuk adat, budaya, bahasa, pemikiran, geografis, dan akar politiknya.

Mengapa saya sebut mengutamakan akal? bukankah semua ucapan mereka itu selalu berdasarkan dalil-dalil shohih?. Ya, benar, semua yang mereka ucapkan/tulis mungkin berdasarkan dalil-dalil haqq firman Alloh dan sunnah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam. Namun sebagian mereka ternyata belum sepenuhnya benar-benar mengerti hakikat ikhtilaf pada tingkat cabang Islam dan ijtihad. Jadi menurut akal dan pemahaman mereka, apa yang ada di Makkah dan Madinah sana, WAJIB 100% diterapkan sama dengan di negara-negara lain di muka bumi. Harus sama plek! Inilah yang saya sebut akal-akalan mereka. Padahal diinul islam ini meski tegas, namun tidaklah sempit sebagaimana yang mereka bayangkan.

Sebagai contoh, coba perhatikan apa yang pernah dinasehatkan Syaikh Utsaimin mengenai ijtihad, yang tentu bisa saja terjadi perbedaan, meski masih banyak orang awam yang belum mengerti hal semacam ini:

Bilakah Diakuinya Perbedaan Pendapat?

Syaikh Ibnu Utsaimin

Pertanyaan:
Kapan diakuinya perbedaan pendapat dalam masalah agama? Apakah perbedaan pendapat terjadi pada setiap masalah atau hanya pada masalah-masalah tertentu? Kami mohon penjelasan.

Jawaban:
Pertama-tama perlu diketahui, bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama umat Islam ini adalah yang terlahir dari ijtihad, karena itu, tidak membahayakan bagi yang tidak mencapai kebenaran. Nabi صلی الله عليه وسلم telah bersabda,
إِذَا حَكَمَ اْلحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ
"Jika seorang hakim memutuskan lalu berijtihad, kemudian ia benar, maka ia mendapat dua pahala. Dan jika ia memutuskan lalu berijtihad kemudian salah, maka ia mendapat satu pahala."[1]

Maka, bagi yang telah jelas baginya yang benar, maka ia wajib mengikutinya. Perbedaan pendapat yang terjadi di antara para ulama umat Islam tidak boleh menyebabkan perbedaan hati, karena perbedaan hati bisa menimbulkan kerusakan besar, sebagaimana firman Allah, "Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46).

Perbedaan pendapat yang diakui oleh para ulama, yang kadang dinukil (dikutip) dan diungkapkan, adalah perbedaan pendapat yang kredibel dalam pandangan. Adapun perbedaan pendapat di kalangan orang-orang awam yang tidak mengerti dan tidak memahami, tidak diakui. Karena itu, hendaknya orang awam merujuk kepada ahlul ilmi, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah سبحانه و تعالى, "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (An-Nahl: 43).

Kemudian pertanyaan penanya, apakah perbedaan ini terjadi dalam setiap masalah?

Jawabnya:
Tidak demikian. Perbedaan ini hanya pada sebagian masalah. Sebagian masalah disepakati, tidak ada perbedaan, alhamdulillah, tapi sebagian lainnya ada perbedaan pendapat karena hasil ijtihad, atau sebagian orang lebih tahu dari yang lainnya dalam menganalisa nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah. Di sinilah terjadinya perbedaan pendapat. Adapun dalam masalah-masalah pokok, sedikit sekali terjadi perbedaan pendapat.

[1] HR. Al-Bukhari dalam Al-I'tisham (7325).
Rujukan: Dari fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin yang beliau tanda tangani. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.

------ *** ------

Jadi bilamana ada sebagian orang awam yang berkelakuan layaknya ulama-ulama yang telah memiliki banyak ilmu, faqih, dan memiliki wewenang untuk meng-hajr sebagian muslimin lainnya, ketahuilah, bisa jadi mereka sebagaimana yang telah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam peringatkan kepada kita mengenai kaum akhir zaman seperti ini:

سيخرج في أخر الزمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من خير قول البرية يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية. فإذا لقيتموه فاقتلوهم فإن في قتلهم أجرا لمن قتلهم عند الله يوم القيامة.

“Akan keluar pada akhir zaman, suatu kaum, umurnya masih muda, rusak akalnya, mereka bertutur dengan manis. Mereka membaca al Qur-an, namun tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama bagai terlepasnya anak panah dari busurnya. Apabila kalian menemuinya, bunuhlah mereka, karena terdapat ganjaran pada hari Kiamat nanti bagi mereka yang membunuh kaum tersebut” - HR. Bukhari (3611), HR. Muslim (1066).

waspadalah... waspadalah...

ini bukan takfir bung! namun sebagai perkeling atau "alarm" agar kita menjauh dari sifat-sifat kaum yang dimaksud diatas.

insya Alloh bilamana diperlukan, suatu saat nanti akan saya posting juga dimana letak kesalahan pemahaman agama dari orang-orang yang selalu mengaku paling "nyunnah" ini.

image courtesy of percikaniman.org

Tidak ada komentar: