Kamis, 24 September 2009

Perlukah Sandaran Hukum dalam Mencari Ilmu Agama?

Abdullah Ibnul Mubarak, "Isnad adalah bagian dari agama. tanpa isnad, niscaya seseorang akan berbicara semaunya." (baca: ro`yu)

Dalam kajian Ulumul Hadits terdapat istilah at-tahammul wal adaa', yaitu proses take and give (mengambil dan memberi). Maksudnya yaitu proses transmisi hadits dari satu orang (rawi) ke orang lainnya. Dalam tradisi thalabul ilmi biasanya setelah selesai membahas suatu kitab tertentu, misalnya fikih, maka syaikh memberikan ijazah kepada murid-muridnya. Sebagian murid dites terlebih dahulu, tapi ada juga yang tidak, tergantung inisiatif syaikh, tentunya dengan melihat kapasitas para muridnya.

Dalam Tadribur Rawi, Imam Suyuthi memberikan keterangan terhadap perkataan Imam Nawawi mengenai salah satu metode at-tahammul (take) yang disebut Al-Ijazah, Isnad, atau Chains of Transmission/Narration.

Salah satu jenis Al-Ijazah adalah seorang syaikh (guru) mengatakan kepada muridnya, “Saya mengijazahkan sesuatu ini kepada anda.” Sesuatu itu biasanya berupa riwayat-riwayat hadits yang telah didapatkan dari gurunya, seperti Shahih Bukhari, Muslim atau Kutubus Sittah lainnya.

Hukum Al-Ijazah

Dalam kitab yang sama, Imam Suyuthi menyebutkan macam-macam jenis Al-Ijazah beserta perbedaan pendapat di kalangan ulama muhadditsin mengenai hukumnya. Terkait dengan ijazah terhadap sesuatu yang sudah diketahui yang diberikan kepada orang yang sudah diketahui pula (mu’ayyan li mu’ayyan) sebagian ulama membolehkan, sebagian lagi melarang. Di antara yang melarang adalah Ibnu Hazm, pendiri mazhab Zhohiriyah. Beliau berkata, “Itu adalah bid’ah yang tidak diperbolehkan.” (Al-Ihkam I/328)

Namun mayoritas (jumhur) ulama, baik dari kalangan ahli hadits maupun yang lainnya memperbolehkannya. (At-Taqrib I/437)

Imam Khatib Baghdadi dalam kitabnya, Al-Kifayah, menyebutkan, “Sebagian ahli ilmu membolehkan (Al-Ijazah) dengan dasar hadits bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menulis surat Al-Baraah (At-Taubah) dalam sebuah lembaran lalu menyerahkannya kepada Abu Bakar, kemudian menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk mengambilnya darinya tanpa membacanya terlebih dahulu kepada beliau, hingga sampai di Makkah kemudian membuka dan membacanya di hadapan para sahabat.” (Al-Kifayah 349)

Untuk penjelasan lebih mendetail, silahkan ditelaah kembali kitab-kitab turats, khususnya dalam bidang Ulumul Hadits.

Fenomena Al-Ijazah di Kalangan Umat Islam

Hingga saat ini, tradisi ini (jika boleh dibilang tradisi) sudah membudaya di kalangan umat Islam, baik kalangan terdahulu maupun masa kini. Sehingga mudah kita jumpai di beberapa tempat, baik di negeri-negeri Arab maupun sebagian negeri kaum muslimin yang melestarikan bagian dari ajaran Islam ini.

Bagaimana Nasib Metode Jarh Wa Ta'dil saat ini?

Sebenarnya permasalahan jarh wa ta'dil sudah selesai pasca kodifikasi (tadwin) hadits. Jadi sistem tersebut tidak berpengaruh terhadap sahih-tidaknya matan hadits tersebut. Al-ijazah dimaksudkan untuk melestarikan bagian dari ajaran Islam (sanad) yang dulu pernah mendapatkan perhatian serius dari para ulama. Hal ini juga tentunya berkaitan dengan boleh-tidaknya mutaakhirin mensahihkan hadits yang sudah dianggap dhaif oleh para ulama mutaqaddimin, dan sebaliknya. Keterangan mengenai hal itu bisa dibaca dalam diskusi antara Imam Nawawi dengan Imam Ibnu Shalah dalam kitab Tadribur Rawi.

Lihat statemen Imam Ibnu Shalah dalam Syarah Muslim:

فصل
قال الشيخ الامام أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله اعلم أن الرواية بالاسانيد المتصلة ليس المقصود منها في عصرنا وكثير من الاعصار قبله اثبات ما يروى اذ لا يخلو اسناد منها عن شيخ لا يدري ما يرويه ولا يضبط ما في كتابه ضبطا يصلح لان يعتمد عليه في ثبوته وانما المقصود بها ابقاء سلسلة الاسناد التي خصت بها هذه الامة زادها الله كرامه.
Pasal:
Syaikh Imam Abu ‘Amr Ibnu Shalah r.h. berkata: “Ketahuilah bahwa meriwayatkan dengan sanad yang bersambung di zaman ini dan di kebanyakan zaman sebelumnya bukanlah dimaksudkan untuk menetapkan (itsbat) apa-apa yang diriwayatkan tersebut, karena tidak tertutup kemungkinan dalam sanad itu terdapat seorang syaikh yang tidak mengetahui apa yang diriwayatkannya, dan tidak mendokumentasikannya dalam kitabnya secara baik sehingga layak untuk dijadikan sebagai acuan (rujukan) yang bisa dipertanggungjawabkan dalam hal validitasnya. Akan tetapi maksud daripada semua itu adalah menjaga kelestarian silsilah isnad (mata rantai riwayat) yang menjadi keistimewaan umat ini (Islam). Semoga Allah SWT menambah kemuliaan-Nya bagi umat ini.” (Syarah Shahih Muslim I/13, Maktabah Syamilah)

Itulah mengapa kita perlu menjaga tradisi ijazah/sanad. Tujuannya bukan untuk menilai validitas sesuatu yang kita riwayatkan tersebut, seperti Shahih Bukhari atau Muslim, karena otentisitas kedua kitab tersebut sudah final dan disepakati oleh seluruh ulama kaum muslimin. Tapi tujuan utamanya adalah untuk menjaga kelestarian salah satu bagian terpenting dalam ajaran Islam yang mulai dilupakan banyak orang ini, terutama di zaman sekarang. Dan tentunya terdapat manfaat-manfaat lain selain hanya sekedar menjaga tradisi. Misalkan suatu ketika nanti badai fitnah melanda seluruh umat manusia di akhir zaman (siapa tahu?), maka jelaslah peran al-ijazah/sanad sangat diperlukan. Misalnya, terdapat berbagai macam manuskrip palsu tentang Quran maupun Hadits.


Lalu bagaimanakah cara seseorang yang ingin berhujjah dengan hadits dalam Shahih Muslim? Berikut jawaban Ibnu Shalah yang dinukil oleh Imam Nawawi dalam kitab yang sama:

واذا كان كذلك فسبيل من أراد الاحتجاج بحديث من صحيح مسلم وأشباهه أن ينقله من أصل مقابل على يدي ثقتين بأصول صحيحة متعددة مروية بروايات متنوعة ليحصل له بذلك مع اشتهار هذه الكتب وبعدها عن أن تقصد بالتبديل والتحريف الثقة بصحة ما اتفقت عليه تلك الأصول فقد تكثر تلك الأصول المقابل بها كثرة تتنزل منزلة التواتر أو منزلة الاستفاضة


“Jika sudah demikian, maka siapapun yang ingin berhujjah dengan hadits dari Shahih Muslim dan semisalnya, hendaknya ia menukil hadits tersebut dari (riwayat) asli yang telah dicocokkan (muqobalah) dengan (riwayat) dua orang tsiqah dengan riwayat-riwayat asli lainnya yang bermacam-macam. Semua itu dimaksudkan agar dapat dipastikan tidak terjadi manipulasi atau penipuan terhadap naskah-naskah yang ada, meskipun sebenarnya kitab-kitab tersebut sudah sangat populer. Bahkan boleh jadi naskah-naskah asli yang sangat banyak dan bermacam-macam tersebut mencapai derajat mutawatir atau menjadi rahasia umum.” (ibid.)

Imam Nawawi mengomentari pernyataan Ibnu Shalah tersebut. Berikut petikannya:

هذا كلام الشيخ وهذا الذي قاله محمول على الاستحباب والاستظهار والا فلا يشترط تعداد الأصول والروايات فان الأصل الصحيح المعتمد يكفي وتكفي المقابلة به والله اعلم

“Demikianlah pernyataan syaikh (Ibnu Shalah). Dan statemen beliau tersebut bersifat sunnah dan penguat, mengingat tidak disyaratkan adanya sejumlah (naskah-naskah) asli dan riwayat. Karena sebuah naskah asli yang bisa dipertanggungjawabkan sudah cukup mewakili dan boleh dijadikan sebagai acuan dalam muqabalah. Wallohu a’lam.”

Dari penjelasan dua imam besar dalam dunia Ilmu Hadits tersebut kita mendapatkan kesimpulan bahwa menyambung sanad merupakan perkara sunnah (tradisi) yang akan selalu dijaga oleh orang-orang shaleh di setiap zaman. Karena sanad merupakan bagian terpenting dan keistimewaan ajaran Islam yang tidak ditemukan dalam ajaran lain.

Note: mudah2an tulisan ini bermanfaat khususnya bagi mereka yang masih anti sanad, anti menimba ilmu dari guru yang ber-isnad/muttashil, karena mungkin merasa mampu mengerti membaca bahasa Arab dengan fasih. Mudah2an kita tidak menjadi orang yang merasa asing dengan ajaran agamanya sendiri. Amiin...

2 komentar:

Best Blog Ever mengatakan...

jazakallohu khoiro mas atas tulisannya, pd tulisan sebelumnya membahas pentingnya ngaji secara manqul, nah dsini pembahasannya mengenai ijasah (sanad)..
bagus sekali...
klo gitu kesimpulannya ngaji tu harus secara manqul krn ilmu yg diambil secara wajadah banyak mudlorotnya, tp klo ijasah hukumnya boleh ditinggalkan, tp lebih baek klo punya ijasah/sanad...
maksudnya gt ya mas????

Teguh Prayogo mengatakan...

BEST BLOG:
klo gitu kesimpulannya ngaji tu harus secara manqul krn ilmu yg diambil secara wajadah banyak mudlorotnya

TG:
betul mas/mbak

BEST BLOG:
tp klo ijasah hukumnya boleh ditinggalkan, tp lebih baek klo punya ijasah/sanad... maksudnya gt ya mas?

TG:
sanad/ijazah selain sebagai rekomendasi atau "pengakuan" seorang ulama terhadap seseorang (murid) yg ia percaya bisa menerima dan menyampaikan ilmu Qur'an Hadits darinya, juga sebagai wujud "sambung"-nya ilmu seseorang sampai kepada Rosuululloh shollallohu 'alaihi wasallam. Kalo istilah pak Nurhasan dulu, isnad/sanad ini adalah sebagaimana pipa yg mengaliri air murni dari pegunungan ke tempat dimana kita berada saat ini. Tetapi diluar pengajian kita, isnad/sanad/ijazah ini digambarkan sebagaimana "rantai ilmu" yg menghubungkan kita dengan pembawa islam (baca: Rosuululloh shollallohu 'alaihi wasallam). --> Ya maksudnya podho wae (sama saja!)

Meski tidak kita pungkiri, disana2 pun banyak jenis2 isnad/ijazah. ada isnad yg berhubungan dengan keilmuan, tetapi ada juga isnad/ijazah yg berhubungan dengan silsilah keluarga. biasanya jenis isnad yg kedua ini masih dipegang erat oleh orang2 Timur Tengah agar mereka tahu siapa nenek moyang mereka dulu.

Demikian. mugo2 Alloh paring manfaat lan barokah.