Rabu, 26 Agustus 2009

Etiquettes of a Student of Knowledge










بسم الله الرحمان الرحيم

السلام عليكم ورحمت الله و بركاته

Etiquettes of a Student of Knowledge with himself:

1) Ikhlaas – Sincerity: Our intention must be to gain knowledge for the sake of Allah (SWT), to seek His pleasure.

Jabir ibn ‘AbduLlah رضي الله تعالى عنه narrated that the Prophet صلى الله عليه وسلم said, “Do not acquire knowledge in order to compete with the scholars, nor to argue with the ignorant, nor to gain mastery over the gatherings. Since whoever does that, then: The Fire! The Fire! [Sunan at-Tirmidhi, Sunan ibn Majah, Musnad Ahmad and others]

Sufyan ath-Thawri رحمه الله تعالى said, “I have never tried to cure anything that is more difficult to cure than my niyyah”

2) To make sure we purify our hearts from any evil feeling against the fellow students of knowledge and Muslims in general:

Prophet صلى الله عليه وسلم “…Indeed there is a piece of flesh in the body which if it is good, then the whole body is good, but if it is corrupt then the whole body is corrupt. Indeed it is the heart.” [Sahihayn]

3) Our body should be purified of sins. We must make sure we have Taqwa of Allah (SWT):

Prophet صلى الله عليه وسلم said, “Teaching others good and forgetting himself is life a candle that gives light to others and burns itself.”

Our purpose of learning should also be to implement on ourselves what we learn.

4) A person should understand in his heart the importance of knowledge.

5) Good studying habits:

- Early morning for memorisation
- Later on, study a new topic
- Afternoon for revision of older topics
- Evening for doing research.

6) Choose proper companions:

Prophet صلى الله عليه وسلم said, “A person will follow the religion of his friend, so be careful whom you choose as your friend”

Prophet صلى الله عليه وسلم described a good a friend as a man who sells perfume. If a person stays in his company, he will smell sweet. He صلى الله عليه وسلم described a bad friend as a blacksmith. If a person stays in his company, he will eventually smell unappealing.

7) He should try to study Islam at an early age:

Studying in a young age is like inscribing on a rock and at an old age is stick tapping in water.

8) Patience:

Scholars have said, “If you give yourself all to gaining knowledge, then you will gain something, otherwise you will gain nothing”

9) Taking notes:

Prophet صلى الله عليه وسلم said, “Trap knowledge, trap knowledge.” The Sahabah رضوان لله تعالى عليهم said, “How, O’ Messenger of Allah?” Prophet صلى الله عليه وسلم said, “By writing it down.” [Khatib al-Baghdadi and others, Sahih]

When the Salaf were during a class and when their paper used to run out, they used to start writing on their sleeves. When the place would run out, they would take off their shoes and write on their upper clean part. They would, then, go home bare feet on scorching sand. As soon as they would reach home, they would copy the ‘Ilm down on paper.

Etiquettes of a Student of Knowledge with his Shaykh:

1) He should choose the proper Shaykh:

Muhammad ibn Sirin رحمه الله تعالى said, “This knowledge is that you learning is the Deen, so be careful of who you take the Deen from.”

2) He should respect his Shaykh:

Prophet صلى الله عليه وسلم said, “He is not from us who does not love and show mercy to the young one and respect the elder ones and know the right of the scholars.”

‘AbduLlah ibn ‘Abbas رضي الله تعالى عنه once took the stirrup of Zayd bin Thabit رضي الله تعالى عنه who was a much older and knowledgeable Sahabah and he was leading his horse. So, Zayd رضي الله تعالى عنه said, “How can you do this if you are the cousin of Prophet?” ‘AbduLlah رضي الله تعالى عنه replied, “This is how we have been commanded to treat our scholars!”

3) He should have proper adaab with him:

Imam ash-Shafi’i رحمه الله تعالى once said concerning Imam Malik رحمه الله تعالى, “When I would sit in front of Imam Malik, I would turn the pages gently so as not to disturb him.”

The Salaf رحمهم الله تعالى used to say, “You are going to be treated the way you treat your shuyookh.”

Imam ar-Rabi’ رحمه الله تعالى, the student of Imam ash-Shafi’i رحمه الله تعالى, said, “By Allah, I never had the guts to drink water in front of Imam ash-Shafi’i.”

a) He should pay attention when his Shaykh talks
b) He should not talk to his fellow peers
c) He should avoid excessive jokes and laughing

Prophet صلى الله عليه وسلم said to Abu Hurairah رضي الله تعالى عنه, “Beware of excessive laughter because laughing too much causes your heart to die.”

4) He should love and pray for his Shaykh:

Shu’bah ibn al-Hajjaj رحمه الله تعالى said, “When I would hear a hadith from a person, for the rest of life I would always be in his service.”

5) He should be patient with concerning the faults of his Shaykh:

The Salaf رحمهم الله تعالى would say, “Whoever is not patient with concerning the faults of his Shaykh will not learn anything.”

6) He should properly in front of his Shaykh:

- He should not sit with his feet facing the Shaykh

In the famous hadith of Jibreel عليه سلام when he came to ask the Prophet صلى الله عليه وسلم about what is Iman, Islam and Ihsan, he sat next to Prophet صلى الله عليه وسلم knee to knee and kept his hand on his صلى الله عليه وسلم’s knee.

7) He should speak with his Shaykh in a nice and a proper manner

image: getty image

Kamis, 20 Agustus 2009

Kata kata adalah Amanah

DR. Aidh Abdullah Al Qarni (penulis buku La Tahzan)
Majalah Tarbawi, edisi 209, 9 Juli 2009

------ *** -------

Syariat Islam kita memerintahkan kita wajib mengevaluasi diri, tentang apa yang telah terucap dan apa yang kita tulis. Sebab, apa yang kita ucapkan itu termasuk dari perbuatan kita. Ada orang yang mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa dilandasi ilmu. Ia mengeluarkan pendapat dan berfatwa dalam urusan agama dengan kebodohan. Berbicara tentang masalah aqidah dan ibadah tanpa kehati-hatian dan tanpa sikap wara’. Menurut dirinya, apa yang dilakukannya itu benar, dan apa yang dilakukan orang lain itu pasti salah. Bila engkau setuju dengan fatwa yang dikeluarkannya, engkau akan dikatakan sebagai orang yang baik dan benar. Tapi bila engkau berbeda pendapat dengannya, engkau akan dikatakan sebagai sesat dan menyesatkan.

Ia mengatakan apapun yang ingin dikatakan. Mengucapkan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Bila mungkin, ia tuangkan apa yang ia ucapkan itu pada situs internet. Isinya adalah cacian dan kemarahan yang tidak pantas dilakukan kecuali oleh manusia yang tidak lagi memiliki akal dan begitu menyakitkan. Ia tidak menganggap ada Allah swt yang mengawasi dan menghitung apa yang dikerjakannya. Ia hanya mencaci dan menghina, menyatakan sesat dan mengatakan orang fasiq, mengklaim orang sebagai ahli bid’ah, atau bahkan orang kafir yang sama sekali tidak memiliki kebaikan. Ia tidak mengakui kebenaran dan tidak memandang sisi positif apapun. Ia sama sekali tidak bangga dengan kebaikan orang lain, melainkan hanya bekerja mengumpulkan kesalahan demi kesalahan, kekeliruan demi kekeliruan pihak lain. Bahkan, terkesan senang dengan kesalahan orang lain.

Di antara bahaya yang paling berat bagi ummat ini, adalah ketika ada orang yang berbicara tanpa etika, berfatwa tentang sesuatu tanpa pendalaman kasus, menyampaikan sesuatu yang tidak dipahami orang, dan cenderung mengeksploitir kekurangan dan kesalahan orang lain, untuk menjatuhkan dan menghinakannya. Ia mempunyai sensitifitas tinggi dalam mengail kesalahan orang.

Jika mendengar ada seseorang dipuji, ia lebih ingin mengatakan bahwa pada diri orang yang dipuji itu ada kekeliruan ini dan itu. Ia melihat sisi gelap dari pihak lain, dalam bicaranya. Memelihara kesalahan orang lain yang mungkin sedikit. Pemerintah dalam pandangannya semua adalah kejam dan zalim. Para ulama dalam pandangannya, semua adalah orang-orang yang mecari muka. Para juru dakwah, dalam pandangannya, semuanya adalah para pemburu dunia. Para mahasiswa yang tengah mendalami ilmu agama, dalam pandangannya, semuanya gagal. Masyarakat yang menjalani agama, menurutnya, semuanya bodoh. Para pengusaha, menurutnya, semua pelaku riba. Para penyair, dalam pandangannya, semuanya pendusta.

Sedangkan dirinya, dalam pandangannya, adalah orang yang paling zuhud di zamannya. Manusia langka di zamannya yang mendapat dukungan Allah swt, dalam pandangannya. Ialah yang bertugas menghakimi kesalahan dan memberi petunjuk orang yang dianggap salah. Ialah yang menyesatkan orang selain dirinya karena kesalahan yang mungkin diampuni oleh Allah swt. Ialah yang paling sedikit kesalahan dan kekurangannya. Jika dikatakan kepadanya, “Bagaimanakah sikap kita saat ini dibandingkan dengan sikap Rasulullah saw yang lemah lembut?“, Ia menjawab, “Bagaimana sikapmu dibandingkan dengan sikap para ulama salaf seperti Ibnu Mubarak atau penerus ulama salaf seperti Abdullah bin Baz?“. Padahal, seharusnya ia bisa melihat bagaimana peri hidup dua ulama besar itu yang sangat berlapang dada, baik dan sopan dalam ucapannya, lemah lembut bersikap terhadap orang lain, rendah hati terhadap hamba-hamba Allah, jauh dari perilaku ghibah membicarakan aib dan kekurangan orang lain. Peri hidup mereka bersih, bening, dipercaya, dan bisa diterima oleh banyak orang, baik orang awam maupun khusus.

image courtesy of in-tecom.net

Selasa, 18 Agustus 2009

Waspadalah...!!

Assalaamu'alaikum.

Rekans, bila anda sering mampir ke situs-situs Islami yang ada saat ini, mungkin anda akan menjumpai suatu kelompok muslim (meski tidak pernah mau mengakui sebagai kelompok) yang giat sekali berdakwah dengan cara-cara "unik". Ya, unik karena kebanyakan mereka lebih mengedepankan ego, urat syaraf, dan anti menerima nasehat bil ma'ruf dari selain "kelompok"-nya, kecuali yang nasehat adalah para syaikh dari daratan Hijaz :)

Kelompok muslim ini selalu mengaku bahwa merekalah satu-satunya pengusung dakwah Islamiyyah yang benar menurut manhaj salafus sholih (3 generasi awal umat Islam). Namun dari hasil penelitian beberapa rekan termasuk saya pribadi, terkadang apa yang mereka lakukan untuk syiar Islam, ternyata masih jauh dari dakwah hikmah bil hal wa bil qoul. Dari beberapa pengamatan langsung teman-teman kami di Indonesia terhadap kelompok "minoritas" ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa telah terjadi missing link bahkan diantara sesama kelompok yang se-aliran ini. Adapun aliran islam ini sering disebut dengan istilah salafi.

Salafi merupakan klaim orang-orang yang beristinbath pada manhaj salafus sholih, yang ternyata masih terlalu agung untuk disematkan kepada beberapa kelompok muslim yang lebih mengutamakan akal dan menisbikan realitas yang ada, khususnya di bumi Indonesia ini. Semua ijtihad dari Saudi Arabia, Yaman, Kuwait, atau negara-negara Timur Tengah lainnya coba mereka terapkan secara membabi buta di negara yang sangat majemuk ini. Majemuk adat, budaya, bahasa, pemikiran, geografis, dan akar politiknya.

Mengapa saya sebut mengutamakan akal? bukankah semua ucapan mereka itu selalu berdasarkan dalil-dalil shohih?. Ya, benar, semua yang mereka ucapkan/tulis mungkin berdasarkan dalil-dalil haqq firman Alloh dan sunnah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam. Namun sebagian mereka ternyata belum sepenuhnya benar-benar mengerti hakikat ikhtilaf pada tingkat cabang Islam dan ijtihad. Jadi menurut akal dan pemahaman mereka, apa yang ada di Makkah dan Madinah sana, WAJIB 100% diterapkan sama dengan di negara-negara lain di muka bumi. Harus sama plek! Inilah yang saya sebut akal-akalan mereka. Padahal diinul islam ini meski tegas, namun tidaklah sempit sebagaimana yang mereka bayangkan.

Sebagai contoh, coba perhatikan apa yang pernah dinasehatkan Syaikh Utsaimin mengenai ijtihad, yang tentu bisa saja terjadi perbedaan, meski masih banyak orang awam yang belum mengerti hal semacam ini:

Bilakah Diakuinya Perbedaan Pendapat?

Syaikh Ibnu Utsaimin

Pertanyaan:
Kapan diakuinya perbedaan pendapat dalam masalah agama? Apakah perbedaan pendapat terjadi pada setiap masalah atau hanya pada masalah-masalah tertentu? Kami mohon penjelasan.

Jawaban:
Pertama-tama perlu diketahui, bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama umat Islam ini adalah yang terlahir dari ijtihad, karena itu, tidak membahayakan bagi yang tidak mencapai kebenaran. Nabi صلی الله عليه وسلم telah bersabda,
إِذَا حَكَمَ اْلحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ
"Jika seorang hakim memutuskan lalu berijtihad, kemudian ia benar, maka ia mendapat dua pahala. Dan jika ia memutuskan lalu berijtihad kemudian salah, maka ia mendapat satu pahala."[1]

Maka, bagi yang telah jelas baginya yang benar, maka ia wajib mengikutinya. Perbedaan pendapat yang terjadi di antara para ulama umat Islam tidak boleh menyebabkan perbedaan hati, karena perbedaan hati bisa menimbulkan kerusakan besar, sebagaimana firman Allah, "Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46).

Perbedaan pendapat yang diakui oleh para ulama, yang kadang dinukil (dikutip) dan diungkapkan, adalah perbedaan pendapat yang kredibel dalam pandangan. Adapun perbedaan pendapat di kalangan orang-orang awam yang tidak mengerti dan tidak memahami, tidak diakui. Karena itu, hendaknya orang awam merujuk kepada ahlul ilmi, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah سبحانه و تعالى, "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (An-Nahl: 43).

Kemudian pertanyaan penanya, apakah perbedaan ini terjadi dalam setiap masalah?

Jawabnya:
Tidak demikian. Perbedaan ini hanya pada sebagian masalah. Sebagian masalah disepakati, tidak ada perbedaan, alhamdulillah, tapi sebagian lainnya ada perbedaan pendapat karena hasil ijtihad, atau sebagian orang lebih tahu dari yang lainnya dalam menganalisa nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah. Di sinilah terjadinya perbedaan pendapat. Adapun dalam masalah-masalah pokok, sedikit sekali terjadi perbedaan pendapat.

[1] HR. Al-Bukhari dalam Al-I'tisham (7325).
Rujukan: Dari fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin yang beliau tanda tangani. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.

------ *** ------

Jadi bilamana ada sebagian orang awam yang berkelakuan layaknya ulama-ulama yang telah memiliki banyak ilmu, faqih, dan memiliki wewenang untuk meng-hajr sebagian muslimin lainnya, ketahuilah, bisa jadi mereka sebagaimana yang telah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam peringatkan kepada kita mengenai kaum akhir zaman seperti ini:

سيخرج في أخر الزمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من خير قول البرية يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية. فإذا لقيتموه فاقتلوهم فإن في قتلهم أجرا لمن قتلهم عند الله يوم القيامة.

“Akan keluar pada akhir zaman, suatu kaum, umurnya masih muda, rusak akalnya, mereka bertutur dengan manis. Mereka membaca al Qur-an, namun tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama bagai terlepasnya anak panah dari busurnya. Apabila kalian menemuinya, bunuhlah mereka, karena terdapat ganjaran pada hari Kiamat nanti bagi mereka yang membunuh kaum tersebut” - HR. Bukhari (3611), HR. Muslim (1066).

waspadalah... waspadalah...

ini bukan takfir bung! namun sebagai perkeling atau "alarm" agar kita menjauh dari sifat-sifat kaum yang dimaksud diatas.

insya Alloh bilamana diperlukan, suatu saat nanti akan saya posting juga dimana letak kesalahan pemahaman agama dari orang-orang yang selalu mengaku paling "nyunnah" ini.

image courtesy of percikaniman.org

Selasa, 04 Agustus 2009

Lagi: Sekilas Tentang "Manqul"

Dalam tahammul `ilm (cara menerima hadits lihat Bab Tahammul al-Ilm : Studies in Hadith Methodology & Literature karya Dr. MM. Azamy, Guru Besar Universitas Riyadh di Saudi Arabia) dikenal delapan cara :


(1) As sama' : Guru membacakan pada murid (digunakan pada periode awal sahabat).

(2) 'Ard/Qiroah : Murid membacakan pada guru (kemudian mulai umum digunakan setelah assama')

Jumhur Ulama salaf (sahabat/tabiin) menyebutkan cara yang pertama lebih utama dibanding cara yang kedua, namun ada ulama setelah tabiut tabi'in yang menyebutkan bahwa kedua cara tersebut mempunyai nilai yang sama, antara lain Imam Thahawi (wafat 328 H) yang menuliskan dalam sebuah kitab tentang kesejajaran kedua metode tersebut. (Azamy hal. 45)

(3) Ijazah : mengizinkan seseorang untuk meriwayatkan hadits/kitab berdasarkan otoritas/wewenang (ulama yg punya kitab) tanpa dibacakan (muncul setelah abad ke 3, misal si A mengizinkan B menyampaikan sahih Bukhori maka B harus menemukan/ memakai salinan sahih Bukhori yang berisi sertifikat yang memuat nama si A).

Contoh : Jaman sekarang dilakukan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (wafat 1420 H / 1999 M) mendapatkan otoritas utk menyampaikan hadits berdasarkan Ijazah dari gurunya Allamah Shaykh Muhammad Raghib at-Tabaagh, dan tidak mendapatkan ilmu haditsnya dari baca-baca buku sendiri. Dikatakan juga di tulisan ini bahwa sekarang Ijazah (otoritas) penyampaian telah diserahkan Syeikh Albani kepada Syeikh Ali Hasan, dan ilmu hadits Syeikh Albani telah dites oleh Dr Azami.

Ulama berbeda pendapat mengenai validitas system ini (hal 51)

(4) Munawalah : menyerahkan pada murid kitab/hadits. (misal Az Zuhri wafat 125 H menyerahkan kitabnya pada ulama-ulama), Ini riwayatku dari fulan, maka riwayatkanlah dariku maka kitab itu dibiarkannya padanya untuk dimiliki atau disalin.

Ini tidak umum pada masa awal (sahabat), Periwayatan seperti ini boleh dan derajatnya lebih rendah dari as-sama' dan al-qiro'ah.

(5) Kitabah : menulis surat pada seseorang (korespondensi).
Dilakukan pada masa khulafaur rasyidin, surat2nya (khulafaur rosyidin) sering mengandung hadits yang diriwayatkan para ulama.

(6) I'lam : menginformasikan seseorang bahwa dia (si pemberi informasi) telah mendapat izin untuk meriwayatkan bahan tertentu. Yaitu seorang syaikh memberitahu seorang muridnya bahwa hadits ini atau kitab ini adalah riwayatnya fulan, dengan tidak disertakan izin untuk meriwayatkan dari padanya. Para ulama juga berselisih dengan metode ini.

Adapun lafadz yang digunakan periwayat berkata "A'lamani syaikhi", artinya guruku telah memberitahu kepadaku. Sebagian ulama membolehkan, sebagian lain tidak. Cara ini sulit dilacak pada masa-masa awal.

(7) Wasiyah : mewasiyatkan bukunya pada seseorang. (seorang syaikh mewasiatkan disaat mendekati ajalnya atau didalam perjalanan, sebuah kitab yang ia wasiyatkan kepada sang perawi. Riwayat ini sebagian ulama mengatakan boleh, sebagiannya mengatakan tidak boleh dipakai, dan yang shahih adalah tidak boleh). Contoh Abu Qilabah (wafat 104 H) mewasiyatkan kitabnya pada Ayyub Al Sakhtiyani.

(8) Wajadah : menjumpai buku/hadits yang ditulis seseorang (seperti kita datang ke perpustakaan kemudian kita membuka/ membaca2 hadits/kitab).

Metode ini tidak diakui oleh para ulama (Azami, hal.46)
Ini bukan cara belajar hadits yang diakui (Azami hal 52)

Perihal Al Wajadah :

- Ibnu ash Sholah (wafat tahun 643 H) mengatakan: "Ini termasuk munqothi' (terputus-putus sanadnya) dan mursal (terputus di sahabat)

- Ar Rasyid al 'Atthor mengatakan: "Al wijadah masuk dalam bab al maqthu' menurut ulama (ahli) periwayatan".[Fathul Mughits:3/22]

- Ibnu Katsir (wafat 774H) menganggap ini bukan termasuk periwayatan, katanya: "Al Wijadah bukan termasuk bab periwayatan, itu hanyalah menceritakan apa yang ia dapatkan dalam sebuah kitab." [al Baitsul Hatsits : 125]

Pendapat Madzhab tentang Al Wajadah :

- Sebagian orang terutama dari kalangan Malikiyah (pengikut madzhab Maliki) melarangnya.

- Boleh mengamalkannya, ini pendapat asy Syafi'i dan para pemuka madzhab Syafi'iyyah.

- Wajib mengamalkannya ketika dapat rasa percaya pada yang ia temukan. Ini pendapat yang dipastikan ahli tahqiq dari madzhab as Syafi'iyyah dalam Ushul Fiqh. [lihat Ulumul Hadits karya Ibnu Sholah:87]

Pendapat Ulama Khalaf (terkemudian) yang membolehkan :

- Ibnush Sholah (wafat 643 H) mengatakan tentang pendapat yang ketiga ini : "Inilah yang dilakukan di masa-masa akhirini, karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadits yang dinukil (dari Nabi) karena tidak mungkin terpenuhinya syarat periwayatan padanya." [Ulumul Hadits:87]

Yang beliau maksud adalah jika saat ini yang ada hanyalah al wijadah. [al Baitsul Hatsits : 126]

- An Nawawi wafat 676 H mengatakan : 'Itulah yang benar' [Tadriburrawi:1/491],

- As Sakhowi (wafat 902 H) juga menguatkan pendapat yang mewajibkan. [Fathul Mughits:3/27]

- Ahmad Syakir Wafat tahun 1377 H mengatakan: yang benar wajib (mengamalkan yang shahih yang diriyatkan dengan al wijadah). [al Baitsul Hatsits: 126]

Pendapat mereka (yang membolehkan) itu kalau dilihat dari alasan Ibnu Sholah adalah karena (seolah-olah) ilmu dengan cara/metoda periwayatan sudah tidak ada.

Pendapat Ulama Khalaf yang melarang.

- Imam Adz-Dzahabi ( wafat 748H ) berkata saat berbicara tentang biografi Ali bin Ridlwan Al-Mishri seorang dokter (wafat tahun 453 H) yang menyatakan boleh belajar secara otodidak/ membaca sendiri dari buku/kitab. : Beliau (Ali bin Ridlwan Al-Mishri) tidak mempunyai guru, beliau Cuma menyibukkan diri dengan belajar langsung dari kitab, dan beliau menulis sebuah kitab tentang kemungkinan belajar langsung dari kitab, dan hal itu lebih baik daripada belajar dengan guru. Ini adalah sebuah kesalahan (Siyaru A'Laamin-Nubalaa' 18/105).

- Imam Ash-Shafadi dalam kitab Al-Waafi telah membantahnya secara panjang lebar, begitu juga Imam Az-Zabidi (wafat 893 H) dalam Syarah Ihyaa' dengan menukil dari banyak ulama. Mereka menyebutkan banyak sebab kesalahan belajar tanpa guru, diantaranya yang dikatakan oleh Ibnu Bathlan saat membantahnya : "Segi keenam : Dalam kitab ada banyak hal yang bisa menghalangi seseorang mendapatkan ilmu, yang tidak terdapat pada guru, yaitu : kesalahan tulisan yang bisa timbul karena kesamaan huruf, padahal kesalahan itu sering terjadi pada pandangan mata, juga kurang mengerti tentang i'rab, kitab yang ada rusak atau sedang diperbaiki, atau ada tulisan yang tidak terbaca, juga membaca sesuatu yang tidak tertulis, serta tentang madzhab pengarang kitab, belum lagi jeleknya copi-an (salinan), bisa juga seorang pembaca mencampur-adukkan antara satu alenia dengan lainnya, dasar-dasar ilmiyah yang masih rancu, juga adanya lafadh-lafadh yang sudah menjadi istilah tersendiri dalam sebuah ilmu tertentu yang belum ia pahami, atau ada beberapa lafadh asing Yunani yang belum diterjemahkan semacam lafadh Nauras. Semua ini bisa menghalangi seseorang dalam belajar, yang mana seorang pelajar sebenarnya bisa ringan mempelajarinya dengan bimbingan seorang guru. Dan kalau memang demikian, maka belajar pada seorang guru lebih bermanfaat dan lebih baik daripada kalau belajar otodidak. Inilah yang ingin kami jelaskan.

- Imam Ash-Shafadi berkata,"Oleh karena itu para ulama berkata : Janganlah kamu belajar dari seorang shahafi (orang yang belajarnya otodidak), juga jangan dari mushhafi (orang yang belajar baca Al-Qur'an secara otodidak)'.

Maksudnya, "jangan kamu belajar Al-Qur'an dari seseorang yang cuma belajar lewat mushhaf (buku), dan jangan belajar hadits dan ilmu lainnya dari orang yang belajarnya otodidak".

image courtesy of muslimheritage.com