Selasa, 28 Desember 2010

Piawai

Bagi orang-orang yang menggemari sepak bola, siapa yang tidak kenal dengan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo? Mereka berdua sangat piawai dalam menggiring dan mendribel si kulit bundar. Dalam dunia balap motor, siapa yang tidak kenal Valentino Rossi, salah seorang pebalap motor tersukses di dunia? Dalam bidang ilmu fisika, siapa tidak kenal Albert Einstein, sang penemu Teori Relativitas?.

Bagi kaum muslimin yang tentu sehari-hari tidak mungkin lepas dari ibadah, tidak mungkin lepas dari al Qur'an dan al Hadits, siapa tidak kenal Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib?. Mereka berempat adalah sahabat yang Alloh Ta'ala sendiri ridho kepada mereka. Namun jika kita bertanya, bagaimana mereka berempat bisa menduduki maqam tertinggi dalam sejarah islam di muka bumi? Apakah kemuliaan mereka itu atas dasar pemberian secara cuma-cuma?. Jawabannya adalah: tidak. Mereka diberi kedudukan yang mulia disisi Alloh tentunya sebab amal mereka yang tentu sangat luar biasa diukur dari konteks zaman semasa mereka hidup.

Siapa tak kenal Abu Bakar as-Shiddiq yang setia menemani baginda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam pada saat pertama kali turunnya islam. Dan beliau tercatat sebagai orang yang pertama kali masuk islam bersama dengan Khadijah dan "si kecil" Ali bin Abi Thalib (pada waktu itu Ali bin Abi Thalib masih berusia 8 tahun). Siapa saat itu yang berani menemani orang yang "most wanted" di kalangan kafir Quraisy? Dan setelah islam sempurna, siapakah yang mampu menandingi semangat infaq fi sabiilillahnya? Bahkan Umar bin Khattab sendiri tidak mampu menandinginya dalam hal pembelaan harta benda sahabat Abu Bakar as-Shiddiq.

Siapa tak kenal Umar bin Khattab, yang dikenal tegas dalam ittiba' petuah-petuah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam? Bahkan dalam suatu hadits, Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda bahwa jikalau ada seorang Nabi yang diutus Alloh setelah Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam, pastilah Umar bin Affan orangnya! "Law kaana ba'di nabiyyun. Lakaanal Umar ibni Khattab!"

Siapa tak kenal Utsman bin Affan, seorang sahabat yang tidak diragukan lagi kedermawanannya. Bagaimana perjuangannya dalam menegakkan islam dengan harta bendanya yang terbilang sangat RUARR BIASSAAA pada zamannya. Tak seorangpun sanggup menandingi jumlah shodaqohnya.

Siapa tak kenal Ali bin Abi Thalib? seorang pemuda islam yang sangat luhur akhlaq dan budi pekerti-nya. Kemuliaannya sudah disaksikan para sahabat, bahkan Jibril 'alaihis salaam pun sangat mengaguminya. Beliaulah salah satu ahlul bait yang mampu meredam keresahan umat tatkala istrinya Fatimah "tidak akur" dengan khalifah Abu Bakar as-Shiddiq setelah wafatnya Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam.

Semua kemuliaan itu mereka dapatkan atas jerih payah amal sholihnya. Mereka adalah sedikit dari banyak uswatun-hasanah yang harus kita ambil ibroh-nya. Mereka semua mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Alloh Ta'ala sebab kepiawaian mereka dalam beribadah di dunia.

Maka sangat tepat apabila hampir dalam setiap pengajian kita selalu mendengar pitutur: "supaya kita semua bisa menerampilkan ibadah". Sebab seorang yang piawai atau terampil lah yang mampu menjalani hidup ini pada jalur yang benar secara efektif/efisien.

Contoh tentang "menerampilkan ibadah" secara sederhana, menurut ulama KH. Sulthon Auliya' sebagaimana kita terampil dalam melaksanakan kewajiban ibadah sholat fardhu. Jika ada seseorang yang beralasan: "saya lebih baik sholat di rumah saja, sebab pakaian saya terkena najis", maka orang ini tidak layak disebut orang yang terampil dalam ibadah. Sebab orang yang terampil ibadah adalah orang yang mempunyai "back-up plan" dan mempunyai alat-alat ibadah yang lebih dari satu alias "double".

Maka, sudahkah kita terampil atau piawai dalam ibadah? jika belum, yuk mari kita bersama-sama memulainya dari sekarang.

Tidak ada komentar: