Kamis, 16 Februari 2012

Beda Dulu - Beda Sekarang

Telah diketahui bersama bahwa seiring zaman, telah terjadi banyak perubahan di dunia islam. Kali ini yang ingin penulis angkat adalah perubahan seputar pengertian atau istilah yang berlaku di dunia islam. Apa yang dipahami oleh orang orang zaman dahulu berkenaan dengan suatu istilah dalam keilmuan islam, ternyata bisa berbeda dengan apa yang dipahami oleh orang orang di zaman ini (khalaf). Semoga bermanfaat dan barokah.

1. Perbedaan Pengertian untuk klaim Madzhab.

Zaman dulu yang dimaksud dengan ucapan "madzhab saya adalah madzhab Syafi'i" adalah ungkapan bahwa orang yang berkata tersebut akidahnya sama dengan akidahnya imam muhaddits Muhammad bin Idris as-Syafi'i.

Singkatnya, ketika zaman kekhalifahan khulafaurrosyidin telah lewat, fitnah merajalela. Ketika itu kerusakan (fitnah) tidak hanya terjadi seputar fanatisme golongan saja, namun juga merembet ke masalah yang paling penting, yakni akidah. Maka ketika zaman itu seseorang ditanya "apa madzhab-mu?", itu sama artinya dengan bertanya "seperti siapa akidah-mu?".

Tidak heran jika rata-rata umat islam selalu merujuk kepada 4 imam besar yang masyhur seperti: Nu'man bin Tsabit al Hanafi, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris as-Syafi'i, dan Ahmad bin Hanbal yang sudah tidak diragukan lagi akhlaq maupun akidah-nya.

Namun saat ini, orang yang mengaku "saya ber-madzhab Syafi'i" itu artinya ia mengadopsi pandangan Fiqih atau Ushul Fiqih yang keluar dari ijtihad imam Syafi'i dan para ulama yang mengikutinya.

2. Perbedaan Pengertian istilah Ahlussunnah atau Ahli Hadits.

Zaman dulu sahabat Ibnu Abbas RA pernah mengomentari ayat mulia ini:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

pada hari itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram... al ayat - surah Ali Imran: 106

Beliau mengomentari bahwa "mereka yang wajah-nya putih berseri" di hari kiamat nanti adalah golongan ahlussunnah wal jama'ah. Maka ketika terjadi fitnah disana sini, orang orang yang hidup di zaman itu (salafussholih) selalu meng-klaim diri mereka adalah ahli hadits (ahlussunnah). Hal ini maksud-nya adalah mereka adalah orang orang yang memegang teguh al Qur'an dan al Hadits (as Sunnah) sebagai jalan hidupnya. Mereka berlepas dari akidah mu'tazilah, mujassimah, syiah, dan lain lain yang sedang 'trend' saat itu.

Namun yang terjadi saat ini pengertian-nya sangat jauh berbeda. Mereka yang disebut ahli hadits pada zaman ini maksudnya adalah orang orang yang ahli di bidang ilmu hadits. Mereka faham dan mengerti sekali ilmu mengenai Jarh Wa Ta'dl, Mustholah Hadits, Rijalul Hadits, Tahammu Wal Ada'il Hadits, dan lain lain.

3. Perbedaan Pengertian istilah makna Sahih dan Dhaif.

Zaman dulu yang dimaksud dengan hadits sahih adalah hadits yang maushul (muttashil) sampai kepada Rosul SAW, yang bisa diamalkan karena terbebas dari unsur maksiat. Hadits sahih pada waktu itu rujukannya adalah fatwa sahabat mulia Ibnu Mas'ud RA yang mengatakan bahwa al Qur'an adalah Tashdiq (pembenar) dari suatu hadits. Dalam arti, jika suatu atsar hadits tidak bertentangan dengan al Qur'an maka ia dikatakan hadits yang sahih (sehat), meski tingkat kesahihan itu sendiri bisa diklasifikasikan lebih lanjut sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama ahli hadits setelah zaman imam madzhab.

Adapun pengertian dhaif pada masa itu maksudnya adalah hadits yang tidak bisa atau tidak boleh diamalkan, karena bertentangan dengan al Qur'an. Pada zaman itu hadits hadits dalam tingkatan maudhu (palsu) disamaartikan dengan hadits dhaif (lemah).

Imam Madzhab yang juga adalah ahli hadits, mengatakan bahwa setiap hadits yang sahih adalah madzhab mereka. Sedangkan yang kita ketahui dalam kitab kitab mereka yang juga cerminan dari akhlak, perbuatan, dan manhaj mereka, tidak semua hadits yang termaktub di dalam-nya bertaraf sahih sebagaimana klasifikasi sahih yang dimengerti oleh muhaddits besar imam Bukhori, imam Muslim, atau ulama ahli hadits setelah zaman mereka (imam madzhab).

Hal ini wajar, karena memang urusan klasifikasi hadits adalah mutlak urusan ijtihadiyah. Penilaian suatu atsar hadits itu akan kembali kepada penilaian pribadi si pentakhrij hadits. Jadi adakalanya dalam kitab Sunan Ibnu Maajah, suatu hadits dikatakan dhaif, namun dalam kitab Sunan Tirmidzi dikatakan hasan. Maka yang perlu digarisbawahi adalah:

- apakah hadits tersebut bertentangan dengan al Qur'an?
- apakah hadits tersebut bertentangan dengan prinsip prinsip islam?

Jika tidak, maka hadits tersebut dapat dijadikan pegangan untuk beribadah terutama ibadah ibadah fadhail a'mal (diluar ibadah mahdhoh dan diluar masalah halal haram). Hal ini diperkuat oleh fatwa imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan "aku lebih suka mengamalkan hadits dhaif dibandingkan mengamalkan suatu ibadah yang keluar atas dasar ro'yu manusia". Dari penjelasan ini penulis ingin mengatakan bahwa 1 kata bisa saja mempunyai 2 makna yang berbeda. Tergantung konteks permasalahannya.

Contoh yang paling mudah, kita bisa lihat mengapa kitab al Jami' Tirmidzi sepakat dikatakan para ulama ahli hadits setelahnya sebagai kitab Jami'us SAHIH at Tirmidzi? apakah semua hadits di dalamnya bertaraf sahih? Tidak. Namun yang dikatakan sahih disini adalah karena semua hadits yang ada di dalamnya BOLEH DIAMALKAN (sahih) meski ada yang bertaraf dhaif atau gharib. Jika masih kurang percaya, silakan lihat alasan imam Abu Isa Tirmidzi dalam kitab 'ilal, bahwa seluruh hadits yang ia bukukan didalamnya boleh diamalkan, tidak bid'ah.

Lalu, bagaimana posisi hadits ini?

"man kadzaba 'alayya muta'amidan fal yatabawwa' maq'ada-hu minan-naar" - Bukhori

Barangsiapa yang berdusta atas diri-ku (Muhammad SAW), maka tempatilah neraka.

Hadits ini tentu sifat-nya syamil (menyeluruh). Siapa-pun yang terbukti berdusta mengatakan suatu hadits adalah dari Nabi SAW padahal tidak, maka berat sekali hukumnya. Hadist diatas bukan untuk mengatakan bahwa siapa saja yang mengerjakan hadits dhaif (diluar maudhu) yang telah dibukukan oleh para muhaddits berarti ia berdusta atas nama Nabi SAW. Tidak demikian, karena untuk saat ini apa yang kita ketahui bahwa klasifikasi suatu hadits itu ada dalam derajat sahih, hasan, atau dhaif, tentu hanya si pentakhrij hadits lah yang tahu sekali alasannya. Saat ini kita hanya bisa husnuzhon (sangka baik) bahwa hadits tersebut meski dalam taraf dhaif, tetap dianggap oleh pentakhrij hadits tersebut layak untuk diamalkan (fadhail a'mal).

4. Perbedaan Penggunaan ilmu Kritik Hadits (Jarh wa Ta'dl).

Fatwa Ahmad bin Hanbal inilah yang penulis anggap diterapkan dalam keseharian almarhum syaikh Nurhasan Ubaidah. Meski banyak kesaksian bahwa syaikh Nurhasan bukan hanya orang yang hafal al Qur'an dan menguasai Qiroatussab'ah namun juga menguasai ilmu hadits, pertanyaan-nya kemudian adalah, mengapa beliau yang menguasai ilmu hadits semisal Jarh wa Ta'dl atau Mustholah Hadits, tidak menggunakan ilmu tersebut di saat beliau masih hidup?.

Alasannya, jika pun syaikh Nurhasan Ubaidah mampu menilai sahih-dhaif suatu hadits yang beredar saat ini dengan ilmu Jarh wa Ta'dl, tetap saja beliau memposisikan dirinya secara ilmu, jauh dibawah para imam hadits yang telah bersusah payah mem-filter hadits mana yang bisa diamalkan dan hadits mana yang harus dibuang (tidak dimasukkan dalam kitab hadits-nya). Kita tidak mungkin menilai sesuatu yang kita sendiri tidak ada di zaman itu. Masuk akal? Tentu.

Inilah alasan mengapa seluruh hadits (khususnya kutubussittah) menurut beliau tidak diperlu diperdebatkan lagi mengenai martabat sahih atau dhaif-nya. Karena bagaimana mungkin suatu hadits yang telah berabad-abad dimasukkan ke dalam kitab Sunan Abu Dawud dan telah berabad-abad dijadikan pegangan oleh seluruh ahli hadits, lalu saat ini ada orang yang seenak-nya bilang; "hadits itu maudhu, tidak dapat diamalkan".

Apakah ia telah bertemu muka dengan imam Abu Dawud sebagai pentakhrij dan bertanya mengapa ia memasukkan hadits tersebut dalam kitab Sunan-nya?. Atau apakah ia merasa lebih mampu menilai kekuatan dan kelemahan atsar hadits tersebut dibandingkan imam Abu Dawud?.

Alhamdulillah, para murid syaikh Nurhasan Ubaidah sampai saat ini pun sama, yakni tetap memperlakukan suatu hadits berdasarkan apa yang telah diklasifikasi oleh ahli-nya, yaitu para imam ahli hadits yang sudah berabad abad lalu wafat. Tidak berani merubah ubah suatu hadits yang dikatakan sahih menjadi dhaif hanya semata-mata karena telah mempelajari dan merasa menguasai ilmu Jarh wa Ta'dl sebagaimana ahli hadits berabad-abad lalu. Syaikh Nurhasan Ubaidah bukan tipe ulama 'kagetan' yang ketika membaca kitab Tahdzibu Tahdzib atau Mizan I'tidal, lalu tembak sana sini, "itu dhaif, itu maudhu!". Haadza Mushiibah Azhiim!!!

Ilmu hadits seperti Jarh wa Ta'dl diposisikan syaikh Nurhasan Ubaidah hanya sebatas cabang ilmu yang perlu diwariskan, bukan sebagai "senjata" untuk merevisi apa yang telah dibakukan dan dibukukan oleh para ahli muhaddits zaman dulu. Pertanyaan-nya, apakah hanya syaikh Nurhasan Ubaidah saja yang berpandangan seperti itu? Mari kita lihat beberapa komentar ulama masa kini:

Al-Jarh wat Ta’dil Khusus untuk Para Perawi Hadits Jaman Dulu.

Sesungguhnya ilmu al-jarh wat ta’dil adalah khusus untuk para perawi yang bermasalah dalam periwayatan haditsnya. Dan apa yang dipraktekkan oleh para ulama salaf dalam hal ini sama sekali bukan ghibah.

Ketika hadits-hadits telah dibukukan dan masa para perawi telah berlalu, maka selesailah sudah al-jarh wat ta’dil. Ia sama sekali tidak bisa diterapkan pada seorang muslim yang bukan perawi hadits, apalagi diterapkan terhadap para ulama dan syuhada yang sangat dimuliakan Allah dan dicintai oleh kaum muslimin.

Demikian adalah pendapat para ulama tentang al-jarh wat ta’dil :

Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan berkata, “Al-Jarh wat ta’dil telah habis masanya. Ia sudah tidak ada lagi sekarang.”

Syaikh Abdul Aziz bin Abdilah Ar-Rajihi berkata, “Ilmu al-jarh wat ta’dil sudah selesai, karena ia sekarang telah terbukukan rapi dalam berbagai kitab. Begitu pula dengan hadits-hadits Nabi, ia telah terbukukan dalam berbagai kitab shahih, sunan, musnad, dan mu’jam. sehingga sekarang tidak ada lagi al-jarh wa ta’dil. Dan, al-jarh wat ta’dil itu memang khusus untuk para ahli hadits.”

Syaikh Hasan bin Falah Al-Qahthani berkata, “Besar sekali bedanya antara ilmu al-jarh wat ta’dil yang dipraktekkan oleh para ulama salaf dalam kitab kitab dan karya-karya mereka, dengan pelecehan terhadap para ulama dan da’i, pencemaran nama baik, dan penyebaran aib serta kesalahan seseorang dengan mengatasnamakan al-jarh wat ta’dil yang terjadi sekarang ini.”

Syaikh Ridha Ahmad Shamadi berkata, “Tidak usah dijarh orang yang tidak perlu dijarh, seperti para ulama yang meriwayatkan hadits. Mereka tidak dibutuhkan.”

Ibnul Murabith (w. 485 H) berkata, “Hadits-hadits telah dibukukan dan tajrih pun sudah tidak ada faedahnya lagi.”

Syaikh Athiyah bin Muhammad Salim berkata, “… Dan tidak termasuk dalam hal itu apa yang disebut al-jarh wat ta’dil. Seperti orang yang mengatakan; si fulan mudallis atau si fulan sifatnya begini… Sebab, yang semacam ini terdapat faedah di dalamnya bagi kaum muslimin, agar mereka berhati-hati terhadap hadits-hadits yang diriwayatkannya.”

Mufti Saudi Arabia (Riyadh) syaikh Shalih al-Fauzan berkata: Tidak Ada Ulama Al-Jarh wat Ta’dil Pada Masa Ini!

Dalam satu kesempatan, terjadi dialog tanya jawab antara Syaikh Dr. Al-Alamah Shalih bin Fauzan hafizhahullah dengan seorang thalibul ilmi (Pelajar/Penuntut ilmu):

Penanya:
Syaikh yang mulia, siapakah yang dimaksud dengan ulama al-jarh wat ta’dil pada masa kita sekarang ini?

Syaikh:
Demi Allah, kami tidak mengetahui seorang pun ulama al-jarh wat ta’dil pada saat ini. Sekarang ini para ulama al-jarh wat ta’dil telah berada di dalam kubur. Akan tetapi, perkataan mereka tetap ada di dalam kitab-kitab mereka, kitab al-jarh wat ta’dil. Al-jarh wat Ta’dil itu hanya ada dalam ilmu sanad dan riwayat hadits. Dan mencela manusia serta menjatuhkannya bukanlah bagian dari ilmu al-jarh wat ta’dil. Mengatakan si fulan begini… si fulan begitu… memuji sebagian orang dan mencela sebagian yang lain adalah ghibah dan namimah. Dan itu bukan al-jarh wat ta’dil.

Penanya:
Anda mengatakan bahwa al-jarh wat ta’dil pada zaman ini sudah tidak ada lagi, hal ini akan membuat sebagian orang memahami Anda tidak memandang perlunya membantah ahlu bid’ah dan para penyeleweng agama?

Syaikh:
Al-jarh wat ta’dil itu bukan ghibah dan namimah seperti yang banyak terjadi sekarang ini, khususnya di sebagian kalangan penuntut ilmu. Wahai saudaraku, al jarh wat ta’dil itu adalah bagian dari ilmu isnad dalam hadits, dan ini adalah spesialisasi para imam dan ahli hadits. Dan, kami tidak tahu siapa yang termasuk ulama al-jarh wat ta’dil sekarang ini, dimana ulama tersebut menguasai sanad-sanad hadits dan mampu memilah mana yang shahih dan mana yang dha’if. Kami tidak mengetahui seorang pun sekarang! Ya’ inilah dia yang dimaksud dengan al-jarh wat ta’dil.”

Maka jelas perbedaan makna Jarh wat Ta'dl bagi ulama ahli hadits zaman dulu dengan apa yang dipahami oleh orang orang masa kini. Beda dulu, beda sekarang! Masih ragu lagi saudaraku? :)

5 komentar:

Yuk! Berbagi... mengatakan...

good mas. Jazakallahu khoiro...

myiqjocam mengatakan...

Alhamdhulillah jaza kallahu khoiro..:)

Teguh Prayogo mengatakan...

aamiin... smg manfaat dan barokah.

senkomdenpasar mengatakan...

Postingan arunya mana Mas...

Fajar Juara mengatakan...

Sangat bermanfaat, terimakasih untuk postnya.