Jumat, 17 Januari 2014

Tantangan Para Pewaris Ilmu

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Dalam agama Islam, golongan ulama/muballigh menempati posisi yang mulia. Sebagaimana telah dikatakan dalam Al Qur'an:

"...niscaya Allaah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". QS. al Mujadalah ayat 11.

Namun demikian konsekuensi yang diemban oleh golongan ulama/muballigh pun tergolong berat. Mereka menjadi 'pertahanan terakhir' ummat Islam dalam hal ilmu.

Tanpa ilmu manusia akan dilanda kesesatan yang nyata. Tatkala tanpa ilmu, manusia memilih para pemimpin menurut hawa nafsu, menurut rupa, dan bisa jadi menurut harta. Dan mereka (para pemimpin) akan berfatwa dan berijtihad pula dengan tanpa ilmu. Ketika hal itu terjadi, maka jadilah mereka golongan yang sesat dan menyesatkan. Naudzubillaah...

Sebagai kaum yang mengemban sesuatu yang mulia (baca: ilmu), sudah sewajarnya para ulama/muballigh bersikap arif, bijaksana, dan lebih berhati-hati dalam berpikir dan bertindak. Dalam menerima sesuatu tidak perlu gegabah atau tergesa-gesa, karena dalam Islam dikenal mekanisme musyawarah. Bahkan seorang yang paling alim pun tak luput dari kekeliruan. Maka itulah musyawarah menjadi jalan yang harus dilalui ketika menemui suatu permasalahan. Selain itu pula, al Qur'an telah lama memberikan jalan keluar apabila ada permasalahan yang dihadapi, yakni bertanya kepada ahlinya.

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." QS. An-Nahl ayat 43.

Tidak perlulah menghukumi sesuatu yang bukan kapasitasnya. Para ulama/muballigh wajib berlaku, bersikap, dan beramal sesuai ilmu yang telah sampai pada dirinya. Tidak perlu dilebih-lebihkan, sebaliknya tidak perlu dikurang-kurangi. Apa adanya saja.

Pun demikian, dalam menerima sesuatu (ilmu), para ulama/muballigh semestinya tidak gegabah atau asal comot saja. Karena bagaimana pun patron seorang ulama/muballigh seharusnya telah mengerti 'tertib ilmu'. Maksudnya, ia harus mampu meneliti atau menilai dari siapa ilmu itu diambil, bagaimana cara ilmu itu diambil, bagaimana ilmu itu disampaikan, dan kepada ditujukan kepada siapa. Seharusnya hal semacam ini telah menjadi sesuatu yang wajib diketahui para ulama/muballigh.

Merujuk hal tersebut akhir-akhir ini sudah banyak ulama/muballigh yang mulai tidak gaptek (gagap teknologi). Koneksi dengan internet semakin mudah, dibarengi banjir smartphone dan gadget lainnya yang harganya pun semakin murah. Dari satu sisi memang baik dan banyak manfaatnya, sebab wawasan keilmuan mereka akan makin lebar jalannya. Namun demikian, jika hal tersebut tidak didasari ilmu dan kebijaksanaan, maka hal tersebut meninggalkan celah terbuka yang amat membahayakan sisi kemurnian ilmu yang telah mereka terima.

Salah satu ulama kami pernah mengatakan bahwa teknologi yang semakin maju ini ibarat pisau. Ia bisa menjadi manfaat, sekaligus bisa menjadi mudharat.

"Syubkah-ankabutiyah huwa ni'mat 'inda sholih walakin nikmah 'indath tholih"

"internet itu bisa bermanfaat bagi orang yang shalih, sebaliknya bisa jadi kerusakan bagi orang yang mudah melanggar...", ujarnya dalam suatu sesi tausiyah.

Di era digital seperti saat ini, hampir tidak ada larang bagi siapapun untuk menyatakan sikap, pandangan, dan wawasan kepada khalayak melalui internet. Maka bagi para ulama/muballigh khususnya, agar lebih berhati-hati dalam menyusuri ruang digital yang ditawarkan oleh dunia maya.

Sebagai contoh, ketika membuka atau mencari materi yang berhubungan dengan ilmu, di internet akan mudah ditemui pendapat ulama dari berbagai madzhab atau kefahaman dalam menilai satu perkara atau satu dalil yang sama. Bahkan ulama Haramain sendiri yang sebagian orang mengatakan adalah corong ilmu yang paling murni, tetap saja akan ditemukan berbagai khilafiyah (perbedaan pandangan).

Hal ini bisa membuat rancu sebagian ulama/muballigh yang belum siap dengan khilafiyah yang terjadi di kalangan ulama, dimana sebetulnya hal ini masih diberi ruang toleransi oleh Islam. Dan sebatas pengetahuan saya pribadi, saat ini banyak ditemukan ulama/muballigh yang seakan-akan tidak percaya diri apabila menulis sesuatu tanpa men-copas pendapat ulama yang dianggap 'keren' pada zamannya.

Menurut saya, hal semacam ini tidak perlu terjadi. Seorang ulama/muballigh yang notabene sebagai penjaga kemurnian dan pewaris ilmu harus mematuhi norma-norma yang telah diajarkan oleh para pewaris ilmu sebelum mereka agar memiliki sikap warai atau muttawari (konservatif). Sebagai seorang pewaris hendaknya mereka mampu bersikap, sebagaimana dulu para guru mereka bersikap.

Lebih jauh, seorang ulama/muballigh sejati seyogyanya tidak perlu melakukan hal-hal yang banyak dilakukan oleh golongan awam saat ini semisal copy paste dalil dan mem-forward-nya ke khalayak. Sebab siapa tahu dalil atau pendapat ulama yang di-copas tersebut akan sampai kepada seseorang yang belum pernah menerima dalil tersebut secara manqul.

Copas (copy-paste) tanpa disadari, pada hakikatnya adalah hal amat membahayakan kemurnian agama. Menjaga kemurnian agama itu tidak bisa dibarengi dengan menerima mentah-mentah dalil al Qur'an atau Sunnah yang dibumbui pendapat ulama (meski ulama salafusshalih) yang tidak  memiliki jalur keilmuan sampai kepada dirinya. Saya tidak mengatakan bahwa pendapat ulama salafusshalih tersebut salah, karena dalam posisi ini, yang salah adalah mereka yang gegabah (tanpa men-tashih-kan) terlebih dulu kepada ulama yang lebih berkompeten diatas dirinya, lalu asal copas dan asal menyebarluaskan saja.

Lurr... bagi ummat Islam, ilmu agama yang diwariskan oleh para ulama melalui alur ilmu yang bermuara kepada Rasulullaah SAW (isnad) itu posisinya amat mulia. Maka ambilah ia dengan cara yang mulia pula. Perlakukan ia dengan cara-cara yang benar dan sesuai dengan ajaran Rasulullaah SAW, yakni dengan cara manqul, musnad, mukhlis, muttashil tanpa perlu 'diperindah' dengan pendapat-pendapat.

Bilamana menemui pendapat bahwa manqul (baca: berguru, talaqqi) di zaman ini sudah tidak berlaku, mohon abaikan saja, meski yang berucap adalah sekelas ulama atau ustadz. Mudah-mudahan Allaah SWT segera menyadarkan kekeliruan mereka dan menerima taubat mereka.

Maka sudah saatnya semua orang yang berstatus sebagai pewaris ilmu (ulama/muballigh) harus memiliki prinsip dan sikap yang tegas dalam urusan memurnikan ilmu. Sudah saatnya tidak 'main-main' lagi dengan kaidah manqul, musnad, mukhlis, muttashil dengan seringnya men-copas dalil-dalil apalagi yang berhubungan dengan hukum, apalagi yang belum lazim atau belum disampaikan (di-manqul-kan) di kalangan awam. Sebab hal tersebut merusak kaidah atau rukun tholabul 'ilm yang seharusnya dipegang erat-erat.

Jangan remehkan persoalan manqul. Sebab akibat meremehkan hal ini, kemurnian agama insya Allaah pasti akan tercemar pula. Manqul itu kontraproduktif dengan copas sembarangan (dalam hal ini bolehlah kita sebut al Wijadah).

Jika ilmu agama telah tercemar, maka potensi perpecahan ummat tentu akan semakin lebar. Jika ilmu agama justru dicemari sendiri oleh golongan ulama/muballigh, maka status pewaris ilmu yang disandangnya sudah tidak lagi berguna. Bahkan ia pantas menyandang sebutan ahli modifikasi, bukan ahli mewarisi ilmu yang sampai pada dirinya.

Semoga Allaah SWT melindungi kita semua dari godaan 'manisnya' teknologi yang mampu merusak tatanan kemurnian ilmu. Ini sekedar opini, bukan menggurui. Mohon maaf lahir bathin. Alhamdulillaah jazaakumullohu khoiro./**

2 komentar:

Ponpes Mulya Abadi mengatakan...

ﺟﺰﺍﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻟﻚ ﻳﺎ اخي

Shaldy's mengatakan...

Memang saat ini kebanyakan orang lebih suka jalan pintas. seharusnya lakukan cek dan ricek karena kebenaran tulisan internet sulit dipertanggungjawabkan. trust but verify.