Sabtu, 22 Februari 2014

Sikap Dasar Seorang Mukmin

Beberapa Catatan Tausiyah. Sabtu, 22 Februari 2014 @ Masjid Baitul Ma'mur, Cinere

Beberapa jam lalu saya ditugasi pak Kyai memberi tausiyah dan motivasi kepada para remaja masjid Baitul Makmur, Cinere


Dalam kesempatan ini, saya menekankan mengenai sikap dasar seorang mukmin dimana diantaranya adalah tentang kesemangatan dan fokus dalam mencari ilmu. 
Berikut rangkumannya;

(1). Semangat dalam mencari ilmu agama.

"al 'ilmu tsalaatsatun. wa maa siwa dzaalika fa huwa fadhl. aayatun muhkamatun, aw sunnatun qoimatun, aw faridhotun 'aadilah"

Ilmu itu ada tiga, selain ketiga-nya, ia hanya kelebihan (bakat alam) saja. Adapun ketiga hal tersebut adalah; [1]. ayat yang menghukumi  (al Quran), dan [2]. sunnah yang tegak (al hadits), dan [3]. ilmu faraid yang adil.

Di depan rekan-rekan remaja masjid yang masih semangat mencari ilmu ditengah-tengah hujan gerimis tanpa henti dan hawa dingin yang semakin mendera, saya mencoba memberi suntikan semangat bahwa saat itu mereka adalah sekumpulan orang-orang terbaik disisi Allah SWT. 


Nabiyullah Muhammad SAW banyak memberikan definisi golongan manusia terbaik. Namun dalam hubungannya dengan ilmu, tentu mereka yang sedang belajar-mengajar al Quran lah yang menyandang predikat the best ones.

"khoirukum man ta'allamal qur'aana wa 'allama-hu"
Sebaik-baik kalian adalah mereka yang belajar dan mengajarkan al Qur'an.

(2). Wajibnya memegang teguh niat mukhlis lillaahi ta'ala (karena Allah semata). 

Sebagaimana disebutkan, semua amal tergantung niat. 


"innamal a'malu bin niyah"

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.

Nah, salah satu ciri orang yang benar-benar niat mencari ilmu agama adalah fokus terhadap apa yang disampaikan dalam majelis ilmu. Pikiran dan gerak badannya fokus hanya tertuju pada materi yang disampaikan. Ia tidak terganggu dengan apa yang dilakukan orang lain di sekitarnya. Sebaliknya, ia juga tidak mengganggu orang lain yang sedang menuntut ilmu agama dalam majelis ta'lim.

Selain itu yang dirasa perlu dicermati bagi para penuntut ilmu di zaman ini adalah penggunaan gadget. Tidak dosa untuk menggunakan gadget selama alat-alat tersebut menjadi alat yang mampu memberikan kelancaran dalam beribadah. Bahkan diharapkan dengan semakin mudahnya orang mendapatkan gadget canggih, ilmu agama akan semakin mudah didapat dengan kualitas yang semakin tinggi pula. Namun bilamana yang terjadi adalah sebaliknya, maka perlu segera berkaca pada diri sendiri, "sudah pantaskah saya menggunakan gadget?. Ataukah hanya untuk sekedar eksis dan gaya-gayaan saja?".


(3). Mewaspadai keimanan yang pasang-surut. 


"al iimaanu yazidu wa yankusu"

Keimanan itu bisa bertambah, bisa berkurang.

Agar kualitas keimanan tetap terjaga, saya menyarankan agar rekan-rekan remaja selalu melakukan introspeksi diri. Tanpa menunggu penilaian orang lain, asalkan mau, diri sendiri sebenarnya mampu menilai dirinya benar atau salah. Maka alangkah bijak bilamana warning sign pertama kali datang dari diri sendiri. Sadar diri, mawas diri, instrospeksi diri.


"hasibu anfusakum qobla an tuhasabu"

Nilailah dirimu sendiri sebelum orang lain melakukannya.

(4). Bergaul dengan orang yang salih dan taat. 


Selain itu tentu sebagai orang yang beriman, tidak lupa saya menyarankan rekan-rekan remaja agar lebih sering bergaul dengan sesama orang yang sefaham. Sefaham maksudnya adalah sama-sama memahami al Qur'an dan Sunnah dengan manhaj yang sama pula. Akan menjadi suatu anugerah tersendiri bilamana teman-teman kita adalah orang-orang yang salih, taat pada aturan-aturan agama, serta melaksanakan cara dan metode ibadah yang sama pula. 


(5). Jauhi debat dan polemik dalam agama.


Terakhir saya menyarankan kepada rekan-rekan remaja (generus) agar menjauh dari orang-orang yang senang berdebat atau berpolemik, karena hal tersebut sejatinya tidak memberi faedah apapun kecuali potensi munculnya rasa ujub, takabbur, pol dewe, dan kerasnya hati (keras kepala). Sedangkan tidak akan masuk ke dalam surga jika seseorang mempunyai kesombongan bahkan hanya seberat biji sawi. Naudzubillahi min dzaalik.

Demikian, semoga bermanfaat. //**

1 komentar:

Binti Arifah mengatakan...

Sedikit pencerahan